Aug 16, 2018 Last Updated 8:30 AM, Aug 6, 2018

Lecehkan Bocah 5 Tahun, Seorang Kakek Terancam 90 Kali Cambuk

Published in Nasional
Read 212 times
Rate this item
(0 votes)

Seorang kakek berinisial AS (75) diduga telah melakukan tindak pelecehan seksual terhadap bocah berumur 5 tahun di kawasan Babahrot, Kabupaen Aceh Barat Daya, Sabtu 20 Januari 2017. Akibat perbuatannya, kakek ini terancam hukuman eksekusi cambuk sebanyak 90 kali sabetan rotan.

Saat ini, kasus tersebut sedang dalam masa penyidikan Polres Aceh Barat Daya, dan pelaku telah dilakukan penahanan di rumah tahanan Blangpidie, ibu kota kabupaten setempat.

Kasat Reskrim Polres Aceh Barat Daya, Iptu Zulfitriadi mengatakan kasus ini akan diproses dengan menggunakan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, Pasal 47 tentang jarimah pelecehan seksual dengan ancaman 90 kali cambuk.

 

"Karena yang berlaku di Aceh qanun jinayat itu, kita menyesuaikan dengan aparatur lainnya seperti jaksa penuntut umum, sudah sinkron dan kita bisa menggunakan qanun itu. Jika terpenuhi unsur kita juga nanti bakal terapkan pasal 50 (tentang pemerkosaan) ini kan masih penyidikan perlu mencari unsur lagi," kata Zulfitriadi kepada wartawan.

Sebelumnya, dikabarkan keluarga korban tidak ingin pelaku dalam kasus ini dijerat menggunakan qanun jinayat, dengan ancaman hukuman eksekusi cambuk. Melainkan, keluarga korban meminta tindak pelecehan kepada anak di bawah umur ini mestinya dijerat dengan UU Perlindungan Anak, dengan hukuman kurungan seberat-beratnya.

"Mungkin pihak keluarga tidak paham saja, belum memahami tentang qanun (jinayat) ini, keluarga mungkin pahamnya qanun ini hanyalah (hukuman) cambuk saja," ujarnya.

Zulfitriadi menjelaskan jika dibandingkan eksekusi cambuk sebanyak 90 kali, sama dengan hukuman kurungan lebih dari tiga tahun bagi pelaku. Dan, selama proses hukum berlangsung pelaku akan tetap ditahan hingga pada saat dieksekusi cambuk berlangsung.

"Perbandingannya satu kali cambuk itu sama dengan satu bulan penahanan, (kalau 90 kali) bisa dibilang penahanan itu sudah lebih tiga tahun. Dan, selama cambuk itu belum dilakukan, penahanan tetap dilakukan. Kalau cambuknya dua tahun ke depan, berarti penahanan dua tahun," jelasnya.

Terkadang, katanya, suatu daerah itu menggelarkan eksekusi cambuk harus menunggu anggaran dari pemerintah setempat. Jika tidak ada anggaran, maka eksekusi cambuk belum bisa dilakukan. Kata polisi berpangkat Iptu ini, terkadang ada kasus baru dilakukan eksekusi pada dua tahun berikutnya.

"Mungkin pemahaman masyarakat saja yang belum tahu. Menanggap dijerat dengan qanun, pelaku itu tidak ditahan. Pelaku diancam hukuman maksimal 90 kalibcambuk," ucapnya.

Selain itu, Zulfitriadi juga mengatakan, saat diintrogasi pelaku telah melakukan pelecehan sebanyak lima kali terhadap korban, namun perbuatan yang ke lima itu sangat fatal, hingga pelaku meninggalkan bekas sperma di baju korban.

"Yang sebelum-belumnya itu hanya disuruh pengang paha aja. Tapi yang hari Sabtu (20 Januari 2018) itu ia ada memasukkan lima sentimeter. Dan hasil hasil visum memang ada luka sobek," katanya.

Namun, saat ibu korban mengetahui korban disuruh pegang kelamin pelaku, dan mendapati bekas sperma di baju korban. Zulfitridi melanjutkan, ibu korban segera memandikan korban ke sungai dan mencuci baju tersebut.

"Semua pakaian dicuci, tapi walaupun dicuci kita tetap masih jadikan baju itu barang bukti," pungkasnya.

 

 

 

 

(https://news.okezone.com/read/2018/01/26/340/1850605/lecehkan-bocah-5-tahun-seorang-kakek-terancam-90-kali-cambuk)

More in this category: Batam Kekurangan 1.600 Taksi »

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

Asyik di Facebook