Dec 16, 2018 Last Updated 9:36 AM, Dec 13, 2018

Sarden Bercacing Diimpor dari Tiongkok

Published in Nasional
Read 402 times
Rate this item
(0 votes)

Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Kepri terus berupaya menarik sarden kalengan mengandung cacing dengan merek Farmer Jack, IO, dan HOKI. Hingga Kamis (22/3) kemarin, sudah ada ratusan ribu kaleng sarden yang disita dari gudang importir.

 

“Namun itu belum semua. Ada yang sudah terlanjur beredar,” kata Kepala Balai POM Kepri, Yosef Dwi Irawan, Kamis (22/3).

Yosep mengatakan, pihaknya mengimbau para importir untuk segera menarik ketiga merek sarden tersebut dari pasaran. Tenggat waktu yang diberikan satu bulan. Namun pihak importir ada yang menyanggupi akan menyelesaikannya dalam tiga minggu.

Setelah semua produk sarden terlarang itu ditarik dari pasaran, selanjutnya akan dimusnahkan. Namun pemusnahan akan dilakukan sendiri oleh pihak importir dengan pengawasan Balai POM dan instansi terkait.

Terkait dengan sanksi, Yosef mengatakan pihaknya hanya memberikan peringatan keras. Karena, menurutnya, kesalahan ini bukan sepenuhnya harus ditanggung pihak importir, tapi produsen dari sarden tersebut. Namun untuk penindakan produsen, ia mengatakan pihaknya mengalami kesulitan.

“Produsennya di luar negeri,” tuturnya.

Ia mengatakan, produsen dari sarden ini tidak teliti dalam pemilihan bahan baku. Yosef menduga bahan baku yang digunakan bukanlah kualitas baik. “Karena ada cacingnya di sana,” ujarnya.

Apabila sarden ini konsumsi, kata Yosef, akan mengakibatkan reaksi alergi (hipersensitifitas) pada orang yang sensitif.

“Itu kalau cacingnya dalam kondisi telah mati, tapi kalau masih hidup tentunya akan berdampak buruk terhadap kesehatan,” ucapnya.

Yosef mengatakan, hal ini menjadi pelajaran bagi pihaknya. Ke depannya, Badan POM akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar meningkatkan pengawasan, seperti dari karantina ikan untuk memeriksa layak atau tidaknya bahan baku yang ada di dalam kemasan.

“Kami telah meminta importir melengkapi sertifikat pengolahan bahan baku, agar bisa melihat bahan bakunya itu benar-benar bagus atau tidak. Kejadian ini membuat kami belajar dan koreksi diri,” katanya.

Ia menuturkan, pengawasan akan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang.

Agar pengawasan penarikan sarden ini berjalan lancar, Yosef mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa instansi untuk mengawasi proses itu. “Batam, Tanjungpinang, Bintan, Lingga, Karimun, Anambas, dan Natuna sardennya sudah mulai ditarik dari peredaran,” ucapnya.

Saat ditanya apakah ke depan ketiga merek sarden itu dilarang beredar di Kepri, Yosef mengaku masih perlu ada kajian. “Lagi pula kami menunggu instruksi dari BPOM pusat,” katanya.

Selain Balai POM Kepri, Dinas Perindustrian dan Perdaganan (Disperindag) Kota Batam juga menarik ratusan produk sarden merek HOKI dan Farmer Jack di beberapa pusat perbelanjaan di Batam.

“Jumlah pastinya belum kami hitung,” kata Kepala Disperindag Batam, Zarefriadi, Kamis (22/3).

Zaref menyebutkan sarden yang terindikasi cacing gilig ini merupakan produk yang diimpor dari Tiongkok. Setelah menarik ratusan kaleng sarden itu, Zaref mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai POM Kepri.

“Biasanya dimusnahkan, nanti kami koordinasi dulu. Yang jelas ini perlu penanganan cepat,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (BPM-PTSP) Batam, Gustian Riau, mengungkapkan tengah mengecek kelengkapan perizinan perusahaan importir yang mendatangkan sarden terindikasi cacing gilig. “Tim tengah berada di kantor distributor,” kata dia.

Razia sarden mengandung cacing juga digelar di Bintan. Selain menarik sarden kalengan dari toko, petugas yang tergabung dalam Tim Satgas Pangan Kabupaten Bintan juga mengecek langsung isi kaleng sarden terlarang tersebut. Hasilnya, memang terdapat sejumlah cacing di dalam kaleng sarden.

Seorang warga, Ani, mengaku senang dengan adanya pemeriksaan terhadap makanan dan minuman yang beredar di masyarakat. Khususnya untuk makanan kaleng impor.

Di Natuna, Dinas Perindag dan Dinas Kesehatan Pemkab Natuna didampingi Satpol PP juga turun tangan, Kamis (22/3). Namun mereka baru sebatas memberikan imbauan kepada para pedagang untuk tidak menjual sarden kalengan merek Farmer Jack, IO, dan HOKI.

Pantauan Batam Pos, sebagian besar pedagang di Ranai, Natuna, hanya menjual sarden merek Farmer Jack. Sarden tersebut sangat laku karena harganya jauh lebih murah dibandingkan merek lain.

Kasi Farmasi dan Alkes Dinas Kesehatan Natuna, Desy Arianti, menyatakan petugas hanya sebatas memberikan imbauan kepada pihak pedagang agar tidak menjual produk sarden yang dilarang BPOM. Untuk penarikan langsung, pihaknya tak punya kewenangan.

Sementara di Batam, hingga Kamis (22/3) kemarin masih banyak toko dan minimarket yang menjual sarden merek Farmer Jack, IO, dan HOKI. Para pedagang mengaku tidak tahu jika ketiga merek sarden tersebut dilarang edar.

“Kata siapa sarden ini berbahaya untuk dimakan. Buktinya masih saja laku kok,” ujar salah satu pemilik toko kelontong di kawasan Jodoh, Murni, Kamis (22/3) siang.

Bahkan sebuah swalayan ternama di kawasan Nagoya-Jodoh pun masih ada yang memajang menjual sarden merek IO. Agar tak mencolok, sarden tersebut ditempatkan di rak terbawah, ditumpuk dengan sarden produk nasional.

Cek Semua Produk Sarden

Yayasan Lembaga Konsumen Batam (YLKB) mendesak Balai POM dan Dinas Kesehatan Batam segera menarik produk sarden merek Hoki, IO, dan Farmer Jack yang terdeteksi mengandung cacing gilig.

“Informasi ini sudah membuat masyarakat resah,” ujar Ketua YLKB, Fahri Agusta, Kamis (23/3).

Ia juga mempertanyakan pengujian yang dilakukan BPOM. Sebab, ketiga produk sarden ini memiliki izin edar, dan dikatakan aman untuk dikonsumsi. Sementara kondisinya sendiri mengandung parasit yang berbahaya bagi tubuh.

“Kalau bisa jangan tiga ini saja. Semua produk sarden dalam dan luar negeri harus diperiksa di lab,” tuturnya.

Menurut dia, seharusnya BPOM melakukan pengujian secara cermat sebelum memberikan izin edar pada produk tertentu. Terutama produk makanan atau minuman impor.

Oleh sebab itulah, ia selalu berpesan agar masyarakat hari-hati membeli makanan kemasan kaleng. “Kita kan gak tahu makanan ini berbahaya atau tidak. Seperti ini misalnya ada izin edar dan layak konsumsi. Tapi kenyatannya ada cacing gilig,” jelasnya.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

Asyik di Facebook