May 25, 2018 Last Updated 5:04 AM, May 22, 2018
Nasional

Nasional (431)

Seorang pegawai negeri sipil (PNS) bernama Doni (36) ditangkap polisi di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Warga Desa Karang Anyar, Rupit itu diringkus karena diduga mendalangi aksi perampokan terhadap sopir truk di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Doni bersama rekannya, Fery (24), warga Lawang Agung Rupit dilaporkan merampok Rozi Armedi (26), warga Desa Rantau Tenang, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Aksi itu dilakukan saat Rozi menyetir truk colt diesel dari Jambi menuju Lubuklinggau.

Kapolsek Rupit, Iptu Ujang Abu mengatakan, setibanya di lokasi korban diberhentikan oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio J. Pelaku masuk ke mobil korban dan menjarah handphone Nokia, satu SIM B, KTP, dan uang milik korban Rp550 ribu. Keduanya langsung kabur usai beraksi. Doni diduga otak perampokan itu.

‎"Usai menerima laporan dari korban, anggota Polsek Rupit melaksanakan pengintaian terhadap para pelaku dan sekira pukul 03.39 WIB polisi berhasil meringkus kedua pelaku yang sedang duduk di pinggir Jalinsum. Keduanya langsung diamankan ke Mapolsek Rupit, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya" ujar Ujang, Selasa (21/6/2016).

Plh Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Muratara, Burdani Akil mengatakan, Doni terakhir kali berdinas di Kecamatan Ulu Rawas, sebelum bertugas di Satpol Pol Muratara pada bagian Damkar.

"Pemkab Muratara masih menunggu proses hukum yang akan dijalani yang bersangkutan, jadi kita menunggu inkrah dari pengadilan. Baru kita bisa menjatuhkan sanksi tegas terhadap Doni. Namun sementara ini kita tetap melayangkan surat untuk penundaan gaji atau penurunan pangkat," pungkasnya.Seorang pegawai negeri sipil (PNS) bernama Doni (36) ditangkap polisi di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Warga Desa Karang Anyar, Rupit itu diringkus karena diduga mendalangi aksi perampokan terhadap sopir truk di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Doni bersama rekannya, Fery (24), warga Lawang Agung Rupit dilaporkan merampok Rozi Armedi (26), warga Desa Rantau Tenang, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Aksi itu dilakukan saat Rozi menyetir truk colt diesel dari Jambi menuju Lubuklinggau.

Kapolsek Rupit, Iptu Ujang Abu mengatakan, setibanya di lokasi korban diberhentikan oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio J. Pelaku masuk ke mobil korban dan menjarah handphone Nokia, satu SIM B, KTP, dan uang milik korban Rp550 ribu. Keduanya langsung kabur usai beraksi. Doni diduga otak perampokan itu.

‎"Usai menerima laporan dari korban, anggota Polsek Rupit melaksanakan pengintaian terhadap para pelaku dan sekira pukul 03.39 WIB polisi berhasil meringkus kedua pelaku yang sedang duduk di pinggir Jalinsum. Keduanya langsung diamankan ke Mapolsek Rupit, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya" ujar Ujang, Selasa (21/6/2016).

Plh Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Muratara, Burdani Akil mengatakan, Doni terakhir kali berdinas di Kecamatan Ulu Rawas, sebelum bertugas di Satpol Pol Muratara pada bagian Damkar.

"Pemkab Muratara masih menunggu proses hukum yang akan dijalani yang bersangkutan, jadi kita menunggu inkrah dari pengadilan. Baru kita bisa menjatuhkan sanksi tegas terhadap Doni. Namun sementara ini kita tetap melayangkan surat untuk penundaan gaji atau penurunan pangkat," pungkasnya.

(okezone)

Dua serangan bom bunuh diri yang terjadi di dalam dan di sekitar ibu kota Irak, Baghdad pada Kamis, 9 Juni telah menewaskan 31 orang dan melukai puluhan lainnya. Demikian keterangan dari pejabata terkait.

Serangan paling mematikan terjadi daerah perdagangan di lingkungan mayoritas Syiah di Baghdad. Dalam serangan itu, setidaknya 19 orang tewas dan 46 lainnya mengalami luka-luka. Demikian laporan yang dilansir Guardian, Jumat (10/6/2016).

Sedangkan serangan lainnya terjadi di sebuah pos penjagaan di utara Baghdad saat pelaku menabrakkan mobilnya dan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 32 orang lainnya. Sebanyak tujuh orang warga sipil dan lima orang pasukan terbunuh dalam serangan di Kota Taji yang berjarak 20 kilometer dari Baghdad.

Kelompok militan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut. Mereka mengatakan bahwa serangan yang terjadi di Baghdad menargetkan warga Syiah, sedangkan serangan di Kota Taji menargetkan pasukan keamanan Irak.

Para pejabat Irak menganggap kedua serangan tersebut sebagai upaya ISIS untuk mengalihkan perhatian pemerintah dari garis depan pertempuran melawan kelompok teror itu.

(okezone)

Seorang perempuan paruh baya di Australia dilaporkan tewas usai saksi mata melihat perempuan malang tersebut diserang oleh seekor ikan hiu berukuran lima setengah meter.

Kepolisian Australia mengatakan korban yang berusia 60 tahun diserang oleh hiu ketika sedang menyelam dengan seorang pria di Mindarie yang berlokasi di Perth pada Minggu 5 Juni 2016.

Teman korban menuturkan ia merasa ada sesuatu yang melewati tubuhnya sebelum korban diserang, namun ia tidak sadar bahwa yang melewatinya adalah seekor ikan hiu.

Ketika korban diserang, tiga nelayan yang berada di dekat lokasi berusaha mengatur perahu yang mereka naiki sehingga dapat menyelamatkan korban. Namun, sayangnya nyawa korban tidak terselamatkan.

Inspektur Polisi Danny Mulligan memaparkan teman menyelam korban berhasil menarik keluar korban keluar dari air setelah korban diserang.

“Perahu yang pada saat itu berada di air memiliki panjang lima setengah meter. Dan mereka mengatakan hiu tersebut berukuran lebih panjang dibanding perahu,” ujar Mulligan, sebagaimana dilansir dariIndependent, Senin (6/6/2016).

Serangan hiu ini hanya berselang kurang dari satu pekan usai seorang peselancar di Australia kehilangan kakinya akibat serangan hiu.

Indonesia disebut oleh Wamenlu RI, A M Fachir sebagai sebuah negara yang besar karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Kendati demikian, bangsa Indonesia tidak bangga dengan kelebihan tersebut, minder, dan masih menganggap diri sebagai negara kecil.

“Indonesia besar, tapi bersikap tidak seperti negara besar,” ujar Fachir saat membuka peluncuran buku di UIN Jakarta.

Selama ini, Indonesia dianggap memiliki banyak kelebihan dan prestasi dibandingkan negara lain. Secara jumlah penduduk, Indonesia memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia dan jumlah pulau yang tak terhitung.

Dalam segi ekonomi, Indonesia masuk dalam kelompok G-20. Bahkan, Indonesia adalah negara berdemokrasi keempat di dunia. 

“Indonesia masuk G-20, negara demokrasi nomor empat, Muslim terbesar, dan memiliki banyak pulau. Kurang besar apalagi kita (Indonesia) ini. Akan sangat disayangkan, jika negara sebesar ini masih berperilaku seperti negara kecil,” ujar A M Fachir

(okezone)

DEKLARASI Hak Asasi Manusia (HAM) Universal yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948 di Palais dec Chaillot, Paris, memaktubkan dalam Pasal 19 bahwa setiap orang di dunia memiliki hak dan kebebasan untuk berpendapat serta berekspresi. Deklarasi HAM ini termasuk kebebasan memegang teguh pendapatnya tanpa gangguan, serta kebebasan untuk mencari, menerima, maupun menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa pun tanpa batasan. Aturan ini diadopsi oleh sedikitnya 150 negara di dunia.

Faktanya, pembatasan-pembatasan terhadap demonstrasi tetap saja ada, bahkan di negara yang sudah menjamin kebebasan berpendapat dalam konstitusinya. Pemerintah menetapkan tempat-tempat mana saja yang boleh dipakai untuk berunjuk rasa, menentukan batasan waktu, dan menuntut pengajuan izin terlebih dahulu.

Menembakkan meriam air, gas air mata, barikade polisi antihuru-hara yang tak jarang diikuti tongkat-tongkat yang melayang ke kepala dan tubuh demonstran yang menolak dibubarkan, seolah sudah menjadi prosedur standar di setiap negara untuk menghentikan aksi protes masyarakat.

Amerika Serikat (AS) misalnya, memiliki Amendemen Pertama yang menjamin kebebasan berpendapat. Akan tetapi ketika sebuah pemberitaan sudah menyasar pada borok tokoh politik, militer dan tubuh pemerintahan, atau dianggap unjuk rasanya terlalu berlebihan, tetap saja pemerintah akan turun tangan membungkam kebebasan yang diagung-agungkan itu.

Pada 2014 misalnya, unjuk rasa di Kota Ferguson, Missouri, AS, dimentahkan oleh pasukan keamanan lokal menggunakan senapan, tank, dan senapan serbu M-4. Presiden Barack Obama kemudian mengecam tindakan para polisi antihuru-hara di negara bagian tersebut. Sejak saat itu presiden pertama berkulit hitam di Negeri Paman Sam itu pun memperkenalkan undang-undang baru yang melarang polisi menggunakan persenjataan militer untuk membubarkan massa.

Meski demikian, AS bukan satu-satunya negara yang memiliki sejarah kekerasan atau bentrokan antara aparat dan pengunjuk rasa. Negara federal ini juga masih terbilang sangat layak untuk warga negaranya menyampaikan kritik terhadap seseorang, perusahaan, organisasi, hingga pemerintah.

1. Palestina

Palestina menjadi salah satu negara di dunia yang terbilang paling berbahaya untuk melakukan unjuk rasa. Hal ini disebabkan kondisi negaranya yang belum sepenuhnya merdeka. Selama lebih dari lima dekade, rakyat Palestina hidup miskin dan menderita di bawah penjajahan dan okupasi Israel di tanah mereka.

Meski kedaulatannya sebagai negara sudah diakui 193 negara per periode 18 Januari 2012, pasukan Israel tetap melakukan agresi di teritori tetangga terdekatnya itu, mengambil lahan mereka, merampas pasokan air bersih, hingga memblokade jalur udara mereka.

Berdasarkan data Amnesty International, kondisi ini memicu pemberontakan. Rakyat Palestina menyebarkan aksi protes di mana-mana. Seringnya, semua aksi itu berujung pada tindak kekerasan, terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pihak berwenang Israel menerapkan kebijakan baru yang lebih keras untuk menindak para pengunjuk rasa yang adalah warga Palestina di kawasan okupasi ketika gelombang kekerasan tengah meningkat di sana pada Oktober 2015. Per periode Oktober–Desember 2015 itulah lebih dari 2.500 warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak, ditahan oleh pasukan Israel. Dengan catatan, sedikitnya 130 pelaku protes terbunuh dalam aksinya.

2. Turki

Negara kedua terparah dalam menindak pengunjuk rasa adalah Turki. Terdapat sejarah kekerasan panjang di negara sekuler ini yang melibatkan ketegangan antara polisi dan demonstran.

Padahal, konstitusi Turki menyatakan, “Setiap orang memiliki hak untuk mengadakan pertemuan tidak bersenjata dan damai dan berdemonstrasi ke jalan tanpa mengajukan perizinan terlebih dahulu.”

Namun yang terjadi di lapangan menunjukkan sebaliknya. Mengkritik presiden bisa dikenai sanksi pidana dan denda. Pada suatu kasus, hubungan rumah tangga terancam retak hanya karena sang istri tidak menyukai Erdogan, dan suaminya merasa itu sikap yang tidak patut melaporkan istrinya ke polisi.

Sementara secara masif, pada periode 2013–2014, jutaan orang yang berdemonstrasi di ruang publik Turki dibubarkan paksa oleh pasukan antihuru-hara. Sedikitnya 45 pengunjuk rasa meninggal, 8.000 orang terluka, ribuan lainnya ditahan, dan ratusan orang menerima dakwaan di pengadilan.

3. Mesir

Di atas kedua negara tersebut, Mesir faktanya menjadi negara terburuk di dunia untuk melakukan protes. Diukur dari banyaknya jumlah pengunjuk rasa yang meninggal saat gelombang Arabian Spring pecah di negara beribukotakan Kairo tersebut pada 2011. Lebih dari 800 demonstran terbunuh dan 6.000 lainnya terluka.

Kekerasan terhadap aksi protes di Timur Tengah sayangnya tidak terdeteksi secara spesifik, karena kerunyaman konflik di negara yang bak medan perang tersebut. Negara lain yang memiliki catatan buruk dalam menangani pengunjuk rasa ialah Ukraina di Benua Eropa dan Hongkong, mewakili skala protes massal di Asia, dengan ribuan orang menjadi korban dalam aksi protesnya.

(okezone)

Supriyanto, seorang TKI yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) asal Tegal tewas disiksa di atas kapal saat berlayar di perairan Republik Fiji.

Pihak keluarga melakukan berbagai upaya untuk mencari keadilan dan kebenaran terkait tewasnya Supriyanto.

Awalnya keluarga sudah melaporkan ke Polres Tegal. Namun, polisi mengatakan kasus itu hanya bisa ditangani interpol, karena terjadi di luar negeri dan melibatkan berbagai pihak dari beberapa negara.

Keluarga Supriyanto juga melaporkan kejanggalan kepada BNP2TKI dan lembaga perlindungan hukum TKI di Jakarta.

“Keluarga pertama lapor ke Polres Tegal, karena tidak bisa menangani kemudian lapor ke BNP2TKI dan lembaga perlindungan hukum TKI. Katanya sampai sekarang masih dalam proses hukum di sana (Taiwan),” kata Setiawan Wartono, adik ipar Supriyanto.

Dugaan meninggalnya Supriyanto karena dianiaya semakin kuat, sebab menurut informasi, ada sebuah video yang menjadi bukti kuat yang di dalamnya berisi rekaman penganiayaan dan penyiksaan kepada Supriyanto.

Di dalam rekaman video amatir berdurasi sekitar 60 menit yang terbagi menjadi 3 bagian itu, terlihat ada beberapa adegan yang sangat kejam dialami Supriyanto.

Di awal video itu, terlihat Supriyanto keluar dari ruang nakhoda dengan posisi sudah sempoyongan dan tergeletak di lantai.

Saat itu, ia sudah tidak mampu lagi berjalan seperti biasanya. Supriyanto posisi duduk kemudian berjalan terseok-seok menuju dek kapal.

Tak lama berselang, empat ABK yang juga WNI menuju ke arah Supriyanto yang saat itu sudah tak berdaya.

Diduga empat WNI itu mendapat perintah dari nakhoda kapal. Keempat ABK WNI dari Batam, Pemalang dan Tegal itu tanpa aba-aba melakukan penganiayaan dengan memukul dan menendang Supriyanto.

Saat menerima penganiayaan dan siksaan itu, Supriyanto hanya bisa terdiam dan sesekali mengucapkan kata-kata “Ya Allah, astaghfirullahaladzim, dan subhanallah”.

Di dalam video itu juga memperlihatkan kondisi detik-detik terakhir Supriyanto mengembuskan nafas terakhirnya.

Sebelum meninggal dunia, kepala Supriyanto dipukul menggunakan pipa besi oleh seorang ABK.

Akibat pukulan menggunakan pipa besi itu, Supriyanto tergeletak dan keempat ABK meninggalkannya begitu saja.

Melihat seorang ABK terkulai lemah tak berdaya, seorang ABK lainnya yang juga berasal dari Indonesia mendekati Supriyanto.

Saat itu, Supriyanto masih bisa bernapas namun dalam kondisi sudah tersengal-sengal.

Sebelum benar-benar mengembuskan napas terakhir, Supriyanto di dalam rekaman itu mengatakan siapa saja yang melakukan penganiayaan dan penyiksaan tersebut.

Keluarga Supriyanto mendapatkan informasi bahwa rekaman video penyiksaan dan penganiayaan yang dialami Supriyanto sudah berada di Taiwan.

Video itu akan digunakan menjadi satu alat bukti untuk menjerat pelaku-pelaku yang terlibat.

“Kami menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib agar keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan,” jelasnya. (Fajar Eko Nugroho/Tribun Jateng)

Terpajang selama 70 tahun di Museum Auschwitz di Polandia, tidak ada satu orang pun yang terpikirkan bahwa ada harta karun disimpan di dalam sebuah cangkir. Ketika pertama kali menemukan sebuah cincin emas dan kalung di bagian bawahnya, sang kurator hanya bermaksud membersihkan.

Seperti kata pihak pengelola, perhiasan tersebut ditemukan secara kebetulan. Penemuan itu sendiri akan didokumentasikan dan diamankan sebaik mungkin. Pihak museum di negara bagian Birkenau itu juga berupaya mencari tahu pemilik aslinya. Namun sedikit pesimis, karena jejaknya tidak terlacak.

 

 

Dilansir dari Telegraph, Jumat (20/5/2016), diduga kuat perhiasan dalam peralatan dapur itu merupakan milik seorang tahanan nazi, yang sudah bersemayam di sana antara 1921 dan 1931. Sebab sangat wajar pada masa itu, para korban mencoba menyimpan barang berharga mereka dalam sebuah koper, ketika mereka tahu akan dipindahkan ke kamp kematian.

"Persembunyian barang berharga, secara berulang disebutkan dalam rekening tahanan yang selamat. Itulah mengapa pada saat itu, mereka harus melalui pemeriksaan baju dan koper yang ketat," ungkap Piotr Cywinski, Direktur Museum Auschwitz.

 

 

Menurutnya, fenomena itu menunjukkan di satu sisi, para korban sudah menyadari bahwa kepindahan mereka akan mengakibatkan hartanya dirampok. Sehingga mereka mencari akal menyembunyikannya di tempat yang mustahil terpikirkan.

Akan tetapi, di sisi lain, penemuan ini dapat dimaknai, bahwa keluarga Yahudi pada era kekejaman Nazi itu secara konstan memiliki secercah harapan, barang-barang berharga mereka akan diperlukan untuk membuktikan keberadaan mereka di masa depan.

(okezone.com)

Seorang karyawati pabrik di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat kritis setelah menderita tujuh luka tusukan yang dilakukan seorang pria, yang diduga mantan kekasihnya.

Menurut Kapolsek Cibinong, Kompol Hida Tjahyadi, korban bernama Yesi Romlah (32), ditusuk seorang pria saat menunggu angkutan umum ketika hendak pulang kerja.

"Korban bernama Yesi Romlah, warga Kelurahan Harapan Jaya, Cibinong," kata dia, Senin (16/5/2016).

Hida mengatakan, kejadian tersebut terjadi di depan pabrik, di Jalan Mayor Oking, Minggu 15 Mei 2016, sekira pukul 18.30 WIB. Saat itu korban sedang menunggu angkot, tiba-tiba datang pelaku menggunakan sepeda motor menghampiri korban, yang langsung menyerang korban.

"Setelah menyerang dan menusuk korban, pelaku lalu melarikan diri meninggalkan korban begitu saja dengan kondisi kritis," ujarnya.

Warga sekitar yang melihat kejadian langsung memberikan pertolongan dan membawa korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Peristiwa penganiayaan yang dialami korban langsung dilaporkan oleh petugas Rumah Sakit Bina Husada Cibinong ke pihak kepolisian.

"Kami langsung melakukan olah tempat kejadian perkara meminta keterangan sejumlah saksi, termasuk korban sendiri," kata Hida.

Hida menambahkan, saat ini kondisi korban sudah melewati masa kritis, namun masih mendapat perawatan intensif. Korban mendapatkan tujuh tusukan di bagian perut, dada, punggung, pinggang dan tangan/lengan sebelah kiri.

"Kondisi korban masih dirawat, korban sempat memberikan keterangan mengenai pelaku penyerangan," tuturnya.

Berdasarkan keterangan korban dan sejumlah saksi, diduga pelaku penyerang adalah teman korban, sementara polisi masih mendalami motif pelaku melakukan aksi nekat tersebut, apakah karena ada dendam pribadi mengingat keduanya sempat berpacaran.

"Motifnya masih belum diketahui, diduga karena dendam. Pelaku sudah kami kantongi identitasnya, antara korban dan pelaku memiliki hubungan pacaran," katanya.

Menurut Hida, pihaknya telah melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan dengan menelusuri rumah tempat tinggalnya. Tetapi pelaku tidak pulang setelah melakukan penyerangan.

"Kami sudah menelusuri hingga rumahnya, tetapi pelaku tidak pulang. Kami masih terus melakukan pengejaran," kata Hida.

Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Km 8 Tol JORR BSD, Serpong, Tangerang roboh. Peristiwa yang membuat lalulintas dari Serpong menuju ke Jakarta tersendat itu karena JPO tertabrak truk trailer yang muatannya terlalu tinggi.

"Jembatan penyeberangan roboh akibat truk yang membawa muatan berat menabrak JPO," kata call center Jasa Marga, Fajar dihubungi Okezone, Minggu (15/5/2016).

Belum diketahui pasti adanya korban jiwa ataupun korban luka-luka dari peristiwa itu. "Belum dapat datanya, polisi masih menanganinya,"tuturnya.

Sebelumnya, sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) di sekitar rest area KM 8 Tol BSD roboh. Imbas dari robohnya JPO tersebut, lalin tersendat.

"22.14 Jembatan penyebrangan di KM 8 (rest area TOL BSD) telah roboh, lalin berimbas padat. @RickyAdiyudha," kicau akun Twitter @TMCPoldaMetro, Minggu, (15/5/2016).

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat akan mendalami informasi tiga kasus gizi buruk yang terjadi di Distrik Arar, Kabupaten Sorong.

"Kami sudah mengagendakan dalam waktu dekat Komisi D akan meninjau langsung lokasi dan menemui tiga anak yang mengalami kasus gizi buruk tersebut," kata Ketua Komisi D DPRD Papua Barat, Ortis F Sagrim, Rabu (4/5/2016).

Dia menjelaskan, gizi buruk merupakan persoalan krusial yang harus disikapi. Pihaknya akan mendalami hal tersebut hingga memperoleh data yang cukup terkait dengan kasus tersebut.

"Kami perlu melihat dan mengetahui kenapa sampai kasus gizi buruk tersebut masih terjadi di Papua Barat. Apakah karena faktor lingkungan atau asupan gizi yang kurang. Masalahnya kenapa ini yang harus dilihat," ujarnya.

Dia berharap, Dinas Kesehatan, baik kabupaten maupun provinsi, bergegas melakukan identifikasi. Kasus itu cukup serius karena lebih dari satu kasus dalam satu distrik atau kecamatan.

Hal pertama yang akan dilakukan adalah meninjau korban dan selanjutnya memastikan kondisi pelayanan kesehatan dari posyandu, puskesmas, rumah sakit, hingga kinerja Dinas Kesehatan setempat.

"Kami ingin memastikan apakah pelayanan kesehatan di Kabupaten Sorong, terutama di Distrik Arar ini berjalan sebagaimana mestinya atau tidak," ujarnya.

Dia mengatakan jika pelayanan bermasalah, Komisi D akan mendorong pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh.

"Kami belum tahu penyebabnya, sehingga belum bisa memastikan rekomendasi yang akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah. Untuk sementara, kita berharap ada upaya pertolongan pertama kepada pasien sehingga kasus ini tidak memburuk," kata dia.

(okezone)