Jan 22, 2019 Last Updated 9:31 AM, Jan 16, 2019
Nasional

Nasional (546)

Ketua DPP PAN Yandri Susanto menyambut baik rencana pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Bagus silaturahmi antar anak bangsa, bagus juga kalau selama ini Prabowo tak bisa ketemu SBY, ini jadi kenyataan," kata Yandri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/7/2017).

Anggota Komisi II DPR RI itu mengungkapkan bahwa pertemuan kedua tokoh bangsa itu telah membuktikan tidak ada sekat antar-elite partai politik satu sama lain. Dia juga percaya tatap muka itu akan membahas sejumlah permasalahan bangsa dan melahirkan sejumlah solusi yang baik demi kemajuan negara.

Tak hanya itu, Yandri berharap setelah terjadinya proses komunikasi politik antara Demokrat dan Gerindra nanti, ke depannya juga akan membuka keran komunikasi dengan parpol lainnya.

"Siapa lagi tokoh bangsa yang dianggap sekat-sekat. Saya kira demi kemajuan, saya usul setelah Prabowo ketemu SBY, ada pertemuan (dengan partai lain)," tutur Yandri.

Saat ditanyakan mengenai pertemuan kedua tokoh itu berlangsung pada momentum kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai peristiwa Kudatuli yakni kejadian berdarah pengambilalihan secara paksa Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat, Yandri menyebut hal itu hanya kebetulan momentum semata. "Yah ini karena bertepatan saja," tegasnya.

Dalam pertemuan itu, berembus bahwa dalam Pemilu serentak 2019 kedua partai ini akan mengusung putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Prabowo. Tetapi, Yandri menekankan kalau partainya belum menentukan sikap mengenai hal itu.

"PAN punya cara ambil sikap, ada sikap resmi," tutup dia.

 

(Okezone.com)

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, Israel sedang berupaya mengambil alih Masjid Al Aqsa dari tangan Muslim. Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu menekankan, menyamakan jamaah di masjid tersebut dengan teroris sangat tidak bisa diterima.

“Semua orang, yang tahu Israel, sadar bahwa pembatasan di Masjid Al Aqsa bukan karena masalah keamanan. Israel sedang berupaya mengambil Al Aqsa dari Muslim dengan dalih upaya kontra-terorisme," ujar Presiden Erdogan di Ankara, dinukil dari Middle East Monitor, Rabu (26/7/2017).

Mantan Gubernur Istanbul itu meminta Muslim di seluruh dunia berperan aktif dalam melindungi Masjid Al Aqsa. Sebab, tindakan Israel yang dengan mudahnya menumpahkan darah di Haram al Sharif adalah karena Muslim di seluruh dunia kurang berpartisipasi dalam isu Yerusalem.

“Dari sini, saya ingin menyerukan kepada semua Muslim. Siapa saja yang memiliki kesempatan, sebaiknya mengunjungi Yerusalem, khususnya Masjid Al Aqsa. Mari, kita semua melindungi Yerusalem,” ungkap Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Pria berusia 63 tahun itu langsung menelefon Presiden Israel Reuven Rivlin tidak lama setelah detektor logam dipasang di kompleks Masjid Al Aqsa. Ia menekankan bahwa kebebasan beragama dan beribadah umat Islam tidak boleh dihalang-halangi.

Erdogan juga mengingatkan bahwa umat Islam tidak akan tinggal diamterhadap aksi kekerasan yang terus berlanjut di Masjid Al Aqsa. Ia mendesak agar pasukan keamanan Israel menghindari tindak kekerasan dan tetap mematuhi hukum internasional serta menghargai hak-hak fundamental manusia.

Israel sendiri sudah memutuskan mencopot detektor logam dari kompleks Masjid Al Aqsa. Tel Aviv kini beralih kepada teknologi kamera pengawas canggih yang dipasang di sekitar jalan-jalan menuju Masjid Al Aqsa. Pihak pemerintah bahkan sudah mengucurkan dana sebesar 100 juta shekel (setara Rp373 miliar) untuk tambahan peralatan dan pasukan keamanan di Masjid Al Aqsa.

(war)

MASAKAN Riau memang sangat beragam, jika dijabarkan satu per satu maka akan muncul banyak hidnagan dengan kategori yang berbeda. Salah satu yang menarik adalah anyang campur, sekilas makanan ini tampak seperti urap.

Anyang campur adalah campuran berbagai sayuran mulai dari tauge, kacang panjang, jantung pisang, kol dan lain sebagainya. Karena terbuat dari campuran berbagai sayuran, rasa anyang campur juga sangat kompleks dan kaya rasa.

Beberapa sayuran dimatangkan terlebih dulu dengan cara direbus, namun sebagian lainnya disajikan mentah. Jika dilihat dari komposisi bahannya, anyang campur terlihat mirip seperti urap yang dikenal masyarakat Jawa.

Anyang campur juga dibumbui dengan kelapa parut sangrai yang sudah diolah dengan campuran bumbu dan rempah khas. Cita rasa masakan melayu yang kuat akan rempah juga terasa di anyang campur ini.

 

Unikmya untuk membuat bumbu anyang campur, masyarakat juga menghaluskan beras sebagai campuran bumbu. Biasanya anyang campur dimakan bersama nasi dan berbagai lauk pendamping lainnya.

 

(Okezone.com)

Sejak razia terhadap tenaga kerja asing ilegal pada 1 Juli 2017, otoritas Malaysia sudah menangkap 695 orang warga negara indonesia (WNI) berstatus pendatang asing tanpa izin (PATI). Mereka kini sedang dalam tahap penyelidikan oleh pihak Malaysia.

Sekretaris Pertama BNP2TKI, Hermono, menerangkan bahwa masa penyelidikan bisa memakan waktu selama dua pekan. Selama itu pula mereka tidak bisa didampingi oleh pengacara maupun perwakilan Indonesia di Malaysia. Akses kekonsuleran juga belum bisa diberikan pada tahap tersebut.

“Setelah 2 minggu, PATI akan disidang di pengadilan imigrasi. Biasanya hukuman 3-6 bulan kecuali ada catatan kriminal. Setelah itu akan dideportasi. Mereka yang ditangkap sekarang baru bisa pulang 3-6 bulan mendatang,” tutur mantan wakil duta besar Indonesia untuk Malaysia itu di Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (14/7/2017).

Meski begitu, menurut keterangan Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal, perwakilan Indonesia sudah berhasil mengunjungi TKI yang ditahan di depo Bukit Jalil. Dari 300 WNI yang ditahan di sana, semua dalam kondisi baik.

“Dari 300 WNI yang ditahan, semua dalam kondisi baik. Mereka diberi makan dua kali sehari, snack juga dua kali sehari,” ungkap Iqbal.

Melihat lamanya proses hukum, Hermono khawatir akan terjadi kelebihan kapasitas (overload) di tahanan imigrasi. Karena itu, Indonesia menyampaikan tiga permintaan kepada pemerintah Indonesia terkait proses hukum PATI asal Indonesia.

“Akses kekonsuleran; jaminan agar TKI kita yang ditangkap dapat perlakuan yang menghormati hak-hak mereka sejak penangkapan sampai pemulangan; dan percepatan prosesnya sebagaimana diketahui dalam proses deportasi normal 3-6 bulan,” tutup Lalu Muhammad Iqbal.

(Okezone.com)

Polisi menangkap dua pengguna narkoba jenis sabu di wilayah Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Rabu (12/7/2017) dini hari sekira pukul 01.30 WIB. Pelaku atas nama Nuryanto ditangkap di sebuah tanah kosong yang menurut laporan warga sering dijadikan tempat pengguna sabu berkumpul.

Dari pengembangan yang dilakukan, polisi meringkus pelaku lain yakni Ridwan Arifin.

"Polisi menindaklanjuti laporan tersebut lalu melakukan pemeriksaan kepada satu pelaku yang bernama Nuryanto. (Di-red) sekitaran gubuk tersebut didapati sisa pakai narkotika jenis sabu berikut alat hisap," kata Kapolres Jakarta Utara Kombes Dwiyono.

Barang bukti yang disita polisi yakni sabu sisa pakai, dua buah korek api, dan dua telefon genggam. Kepada polisi, Nuryanto mengatakan bahwa sabu yang dipakainya didapat dari Ridwan.

"Polisi langsung mengarah ke kediaman Ridwan dan melakukan penggeledahan. Namun, tidak ditemukan barang bukti di rumah Ridwan," ujarnya.

Meski begitu, polisi tetap mengamankan Ridwan. "Selanjutnya polisi mengamankan kedua pelaku tersebut ke Mapolres Metro Jakarta Utara untuk proses lebih lanjut," ucap Dwiyono.

 

(Okezone.com)

Hingga kini, polisi belum menyimpulkan Agus Wiguna, pelaku perakit bom panci yang meledak di Sekejati Kota Bandung pada Sabtu 8 Juli 2017 berhubungan dengan jaringan teror lainnya.

Kendati demikian, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan bahwa Agus Wiguna diketahui telah berbaiat ke ISIS dan menyatakan dirinya bergabung ke Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung.

"Jadi dia memang ada satu kegiatan di masjid yang di Bandung sana. Kelihatannya itu yang memicu dia untuk mendalami melalui gadget di akun-akun radikal," kata Irjen Setyo di kantornya Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2016).

Melalui akun-akun radikal itu pula Agus mempelajari pemahaman radikal dan memicunya untuk menjadi "lone wolf" jihad.

"Sekarang ini banyak akun-akun radikal. Mau masuknya susah harus ada verifikasi-verifikasi tertentu dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Sehingga, kepada masyarakat kita yang masih terbatas pemahamannya ketika dia masuk ke akun itu lalu terpapar, terpengaruh dan terkontaminasi bahan-bahan radikal dan itulah yang memicu mereka menjadi leaderless jihad," terangnya.

Menjadi lone wolf, sambungnya, dikarenakan Agus merasa pemahaman yang dia terima melalui gadget ini adalah sudah benar.

Karena itu, Setyo mengatakan pihaknya terus mendalami apakah Agus terhubung dengan kelompok yang lain atau tidak.

"Belum, karena untuk memastikan bahwa dia berhubung dengan seseorang atau terhubung dengan satu kelompok itu penyidik kita harus mendapatkan bukti-bukti adanya kontak secara Komunikasi," ujarnya.

Selanjutnya, penyidik juga harus menemukan bukti bahwa pelaku melakukan kontak fisik dengan mentor atau jaringan teror tersebut.

"Yang kedua adalah kontak fisik artinya dia ketemu yang bersangkutan di mana dengan mentornya dia, kalau tidak kita tidak bisa menetukan kalau dia terkait dengan A terkait dengan B tidak boleh begitu," katanya.

 

(Okezone.com)

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan kasus penyerangan terhadap ahli telematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Hermasyah (46) berawal dari senggol-senggolan mobil di Tol Jagorawi, Jakarta Timur pada Minggu dini hari 9 Juli 2017.

"Itu faktanya (senggol-senggolan mobil) bukan benar atau enggaknya. Kan polisi mengambil keterangan dari saksi, saksinya kan yang ada di sebelahnya," kata Rikwanto di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Senin (12/7/2017).

Sementara untuk ciri-ciri pelaku, kepolisian masih mendalami siapa yang membacok Hermasyah saat baru saja pulang bersama istri dari makan malam perayaan ulang tahun istrinya.

"Kita lagi kompilasikan ada kekhasan itu, di jalan perilaku seperti itu siapa, yang biasa tengah malam di jalan siapa, yang kalau berantem pakai parang bacok-bacok itu siapa. Mudah-mudahan ya kan polisi punya daftar rujukan kasus-kasus yang mirip seperti itu," katanya.

Saat ini polisi sendiri belum mencurigai satu orang pelaku pun. Sebab, proses penyelidikan masih berlanjut. "Belum ada mengarah ke siapa-siapa. Kita lagi dalami (keterangan istri Hermansyah) kan istrinya syok juga," katanya.

Saat ini, Hermansyah sendiri masih dirawat di RSPAD, Jakarta Pusat dan kondisinya sudah membaik. "Tadi saya dapat laporan dari Kapolres Depok sekarang sudah sadar dan bisa diajak bicara jadi masih di ICU memang tapi kondisi setelah operasi membaik. Jadi kondisinya normal," tukasnya.

 

(Okezone.com)

Polresta Denpasar, Bali, menetapkan enam tersangka dalam kasus pembunuhan seorang anggota TNI. Yang mengejutkan, lima orang di antaranya masih di bawah umur dengan status pelajar.

"Kami lanjutkan kasus ini, tetapi karena ini anak (di bawah umur) berarti penanganannya 15 hari dan bisa diperpanjang. Kami mengacu ke Undang-Undang Anak," kata Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Hadi Purnomo di Denpasar, Senin (10/7/2017).

Selain telah menetapkan enam tersangka, polisi juga telah memeriksa lima orang saksi terkait kasus pembunuhan anggota TNI, Yanuar Setiawan (20) berpangkat Prada yang saat ini masih dalam pendidikan infanteri di Singaraja.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Aris Purwanto mengatakan rata-rata lima orang tersangka berusia muda hingga 16 tahun, yakni berinsial CI, AAJA, KTS, FA serta pelaku lainnya DKDA (16) merupakan pelaku utama yang menikam korban dengan sebilah pisau dan diketahui merupakan anak anggota DPRD Provinsi Bali.

Sedangkan satu tersangka lain berinisial RA (19) merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Ia mengatakan bahwa motif pembunuhan tersebut diduga karena ketersinggungan.

Saat itu, kata dia, baik korban dan para pelaku yang mengendarai sepeda motor tengah dalam perjalanan dari arah Kuta menuju Nusa Dua pada Minggu kemarin sekitar pukul 05.00 Wita tepatnya di seberang SPBU menuju kawasan Nusa Dua yang merupakan tempat kejadian pertama.

"Mereka saling salip dan berhenti kemudian cekcok dan terjadi perkelahian yang menyebabkan satu korban meninggal dunia," katanya.

Aris menuturkan teman korban yang juga melintas di tempat yang sama kemudian menanyakan peristiwa itu dan diduga terjadi perselisihan di antara kedua kelompok. Dua pelaku di tempat pertama yakni CI dan RA kemudian mengejar teman korban yang berjarak sekitar 30 meter dari tempat pertama bersama dengan tiga pelaku lainnya.

"Kami akan proses hukum sesuai ketentuan. Kalau (pelaku) anak-anak kami ikuti aturan (UU Anak)," ucapnya.

Korban Yanuar Setiawan tidak dapat tertolong meski sebelumnya sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dan kini jenazah korban sudah dititipkan di RSUP Sanglah Denpasar.

 

(Okezone.com)

Tim penjinak bom Kepolisian Darmstadt, Jerman, tiba-tiba dipanggil ke sebuah taman kanak-kanak (TK). Gara-garanya, seorang siswa membawa sebuah bom peninggalan Perang Dunia II ke dalam kelas.

Siswa itu mengaku menemukan bahan peledak tersebut saat berjalan-jalan di hutan. Ia membawa bom itu ke dalam kelas karena menganggap benda itu unik. TK tersebut seketika heboh ketika seorang guru menelefon polisi dan staf lainnya mengawal para siswa keluar dari sekolah.

“Seorang anak menemukan bahan peledak bertipe tongkat saat berjalan-jalan di hutan dan membawanya ke dalam sekolah,” terang juru bicara Kepolisian Darmstadt, Andrea Loeb, melansir dari Sky News, Kamis (6/7/2017).

Ahli bom dari kepolisian berhasil menjinakkan bahan peledak tersebut. Para siswa kemudian tetap dikawal saat kembali masuk ke sekolah. Sementara itu, tim penjinak bom menyisir hutan tempat anak yang tidak diketahui namanya itu menemukan bom. Akan tetapi, mereka tidak berhasil menemukan bom sisa peninggalan Perang Dunia lainnya.

Usai insiden tersebut, polisi menerbitkan imbauan agar siapa pun yang menemukan benda-benda yang dipercaya sebagai senjata untuk segera memanggil layanan darurat. Sebab, bom-bom peninggalan Perang Dunia II yang gagal meledak cukup sering ditemukan di Jerman meski perang sudah berakhir lebih dari 70 tahun.

Lebih dari 2.000 ton bom aktif dan amunisi ditemukan setiap tahunnya di Jerman, bahkan beberapa berada di bawah bangunan. Bahan-bahan peledak itu langsung dijinakkan atau sengaja diledakkan. Akan tetapi, seringkali penemuan mengakibatkan evakuasi massal bahkan kematian.

Menurut catatan sejarah seorang wartawan bernama Max Hastings, Darmstadt beberapa kali menjadi target serangan Inggris dan Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah serangan pada September 1944 saat 399 ton bom dengan daya ledak tinggi dan 580 ton bom bertipe batang dijatuhkan dari langit. Sekira 8.400 orang tewas dalam serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan pabrik pembuatan senjata Jerman di Darmstadt itu.

(Okezone.com)

 Keberadan Alifta Nan Rahfaida, remaja 16 tahun yang dikabarkan menghilang sejak dua hari lalu masih misterius. Belum diketahui keberadaannya sejak meninggalkan Stasiun Tugu Yogyakarta.

"Belum ketemu, masih dilakukan upaya pencarian," kata Heri, Ayah Alifta dikonfirmasi wartawan, Kamis (6/7/2017).

Pihaknya berharap agar masyarakat yang mangetahui keberadaan Alifta segera menghubungi  pihak keluarga. Nomor yang bisa dihubungi 085714684267 atau 08174857809.

Sebagaimana diketahui, Alifta dilaporkan hilang oleh keluarganya tak lama setelah tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta pada Selasa, 4 Juli 2017 lalu. Saat itu, dia baru saja tiba di Yogyakarta usai perjalanan dengan kereta api dari Jakarta bersama kakeknya, Surahyo (75)

Sang kakek berada di Musala untuk menunaikan ibadah salat subuh. Sementara Alifta keluar mencari makan, namun tidak pernah kembali lagi. Lalu, melaporkan ke pihak kepolisian dan juga memberitahukan anaknya dan menantunya (orangtua Alifta).

Heri langsung mencari tiket menuju Yogya begitu mendapat kabar putrinya hilang. Dia berangkat menuju di Stasiun Tugu Yogyakarta. Upaya pencarian dilakukan dengan mencetak foto terakhir Alifta.  Heri juga telah melihat rekaman CCTV di beberapa titik Stasiun Tugu, Yogyakarta. Polisi dari Polsek Gedongtengen juga sudah melakukan pemeriksaan di lokasi hilangnya Alifta

Panit 1 Reskrim Polsekta Gedongtengen Kota Yogyakarta, Ipda Haryadi, SH mengatakan usai mendapatkan laporan, pihaknya langsung melakukan penyelidikan bersama dengan petugas dari Stasiun Tugu Yogyakarta. "Kita sudah meminta keterangan beberapa saksi yang mengetahui kepergian Alifta sesuai dengan ciri-cirinya," katanya dikonfirmasi terpisah.

CCTV yang ada di seputar Stasiun Tugu juga telah diperiksa petugas. Hasil pemeriksaan CCTV dapat diketahui Alifta meninggalkanstasiun Tugu dari pintu sisi selatan sendirian tidak bersama dengan orang lain. "Sampai keluar pintu hingga jarak jangkauan CCTV untuk merekam, tidak ditemukan seseorang yang bersama Alifta," ucap dia.

Jika hanya mengacu pada hasil CCTV maka masih minim indikasi tindakan yang mengarah ke pidana. Meski demikian, pihaknya masih berusaha mencari keberadaan Alifta. "Masih jauh ke arah tindak pidana seperti penculikan," tutur dia.

Upaya pencarian tak hanya dilakukan koordinasi antar instansi, tapi juga menggunakan media sosial. Masyarakat dunia maya juga diminta peran aktif jika mengetahui Alifta. "Kita juga menganjurkan kepada keluarga untuk mem-posting kejadian hilangnya Alifta ke media sosial agar ada keterlibatan masyarakat untuk turut membantu pencarian," katanya.

(Okezone.com)

Asyik di Facebook