Feb 20, 2019 Last Updated 11:49 AM, Feb 19, 2019
Nasional

Nasional (555)

Hingga kini, polisi belum menyimpulkan Agus Wiguna, pelaku perakit bom panci yang meledak di Sekejati Kota Bandung pada Sabtu 8 Juli 2017 berhubungan dengan jaringan teror lainnya.

Kendati demikian, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan bahwa Agus Wiguna diketahui telah berbaiat ke ISIS dan menyatakan dirinya bergabung ke Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung.

"Jadi dia memang ada satu kegiatan di masjid yang di Bandung sana. Kelihatannya itu yang memicu dia untuk mendalami melalui gadget di akun-akun radikal," kata Irjen Setyo di kantornya Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2016).

Melalui akun-akun radikal itu pula Agus mempelajari pemahaman radikal dan memicunya untuk menjadi "lone wolf" jihad.

"Sekarang ini banyak akun-akun radikal. Mau masuknya susah harus ada verifikasi-verifikasi tertentu dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Sehingga, kepada masyarakat kita yang masih terbatas pemahamannya ketika dia masuk ke akun itu lalu terpapar, terpengaruh dan terkontaminasi bahan-bahan radikal dan itulah yang memicu mereka menjadi leaderless jihad," terangnya.

Menjadi lone wolf, sambungnya, dikarenakan Agus merasa pemahaman yang dia terima melalui gadget ini adalah sudah benar.

Karena itu, Setyo mengatakan pihaknya terus mendalami apakah Agus terhubung dengan kelompok yang lain atau tidak.

"Belum, karena untuk memastikan bahwa dia berhubung dengan seseorang atau terhubung dengan satu kelompok itu penyidik kita harus mendapatkan bukti-bukti adanya kontak secara Komunikasi," ujarnya.

Selanjutnya, penyidik juga harus menemukan bukti bahwa pelaku melakukan kontak fisik dengan mentor atau jaringan teror tersebut.

"Yang kedua adalah kontak fisik artinya dia ketemu yang bersangkutan di mana dengan mentornya dia, kalau tidak kita tidak bisa menetukan kalau dia terkait dengan A terkait dengan B tidak boleh begitu," katanya.

 

(Okezone.com)

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan kasus penyerangan terhadap ahli telematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Hermasyah (46) berawal dari senggol-senggolan mobil di Tol Jagorawi, Jakarta Timur pada Minggu dini hari 9 Juli 2017.

"Itu faktanya (senggol-senggolan mobil) bukan benar atau enggaknya. Kan polisi mengambil keterangan dari saksi, saksinya kan yang ada di sebelahnya," kata Rikwanto di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Senin (12/7/2017).

Sementara untuk ciri-ciri pelaku, kepolisian masih mendalami siapa yang membacok Hermasyah saat baru saja pulang bersama istri dari makan malam perayaan ulang tahun istrinya.

"Kita lagi kompilasikan ada kekhasan itu, di jalan perilaku seperti itu siapa, yang biasa tengah malam di jalan siapa, yang kalau berantem pakai parang bacok-bacok itu siapa. Mudah-mudahan ya kan polisi punya daftar rujukan kasus-kasus yang mirip seperti itu," katanya.

Saat ini polisi sendiri belum mencurigai satu orang pelaku pun. Sebab, proses penyelidikan masih berlanjut. "Belum ada mengarah ke siapa-siapa. Kita lagi dalami (keterangan istri Hermansyah) kan istrinya syok juga," katanya.

Saat ini, Hermansyah sendiri masih dirawat di RSPAD, Jakarta Pusat dan kondisinya sudah membaik. "Tadi saya dapat laporan dari Kapolres Depok sekarang sudah sadar dan bisa diajak bicara jadi masih di ICU memang tapi kondisi setelah operasi membaik. Jadi kondisinya normal," tukasnya.

 

(Okezone.com)

Polresta Denpasar, Bali, menetapkan enam tersangka dalam kasus pembunuhan seorang anggota TNI. Yang mengejutkan, lima orang di antaranya masih di bawah umur dengan status pelajar.

"Kami lanjutkan kasus ini, tetapi karena ini anak (di bawah umur) berarti penanganannya 15 hari dan bisa diperpanjang. Kami mengacu ke Undang-Undang Anak," kata Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Hadi Purnomo di Denpasar, Senin (10/7/2017).

Selain telah menetapkan enam tersangka, polisi juga telah memeriksa lima orang saksi terkait kasus pembunuhan anggota TNI, Yanuar Setiawan (20) berpangkat Prada yang saat ini masih dalam pendidikan infanteri di Singaraja.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Aris Purwanto mengatakan rata-rata lima orang tersangka berusia muda hingga 16 tahun, yakni berinsial CI, AAJA, KTS, FA serta pelaku lainnya DKDA (16) merupakan pelaku utama yang menikam korban dengan sebilah pisau dan diketahui merupakan anak anggota DPRD Provinsi Bali.

Sedangkan satu tersangka lain berinisial RA (19) merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Ia mengatakan bahwa motif pembunuhan tersebut diduga karena ketersinggungan.

Saat itu, kata dia, baik korban dan para pelaku yang mengendarai sepeda motor tengah dalam perjalanan dari arah Kuta menuju Nusa Dua pada Minggu kemarin sekitar pukul 05.00 Wita tepatnya di seberang SPBU menuju kawasan Nusa Dua yang merupakan tempat kejadian pertama.

"Mereka saling salip dan berhenti kemudian cekcok dan terjadi perkelahian yang menyebabkan satu korban meninggal dunia," katanya.

Aris menuturkan teman korban yang juga melintas di tempat yang sama kemudian menanyakan peristiwa itu dan diduga terjadi perselisihan di antara kedua kelompok. Dua pelaku di tempat pertama yakni CI dan RA kemudian mengejar teman korban yang berjarak sekitar 30 meter dari tempat pertama bersama dengan tiga pelaku lainnya.

"Kami akan proses hukum sesuai ketentuan. Kalau (pelaku) anak-anak kami ikuti aturan (UU Anak)," ucapnya.

Korban Yanuar Setiawan tidak dapat tertolong meski sebelumnya sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dan kini jenazah korban sudah dititipkan di RSUP Sanglah Denpasar.

 

(Okezone.com)

Tim penjinak bom Kepolisian Darmstadt, Jerman, tiba-tiba dipanggil ke sebuah taman kanak-kanak (TK). Gara-garanya, seorang siswa membawa sebuah bom peninggalan Perang Dunia II ke dalam kelas.

Siswa itu mengaku menemukan bahan peledak tersebut saat berjalan-jalan di hutan. Ia membawa bom itu ke dalam kelas karena menganggap benda itu unik. TK tersebut seketika heboh ketika seorang guru menelefon polisi dan staf lainnya mengawal para siswa keluar dari sekolah.

“Seorang anak menemukan bahan peledak bertipe tongkat saat berjalan-jalan di hutan dan membawanya ke dalam sekolah,” terang juru bicara Kepolisian Darmstadt, Andrea Loeb, melansir dari Sky News, Kamis (6/7/2017).

Ahli bom dari kepolisian berhasil menjinakkan bahan peledak tersebut. Para siswa kemudian tetap dikawal saat kembali masuk ke sekolah. Sementara itu, tim penjinak bom menyisir hutan tempat anak yang tidak diketahui namanya itu menemukan bom. Akan tetapi, mereka tidak berhasil menemukan bom sisa peninggalan Perang Dunia lainnya.

Usai insiden tersebut, polisi menerbitkan imbauan agar siapa pun yang menemukan benda-benda yang dipercaya sebagai senjata untuk segera memanggil layanan darurat. Sebab, bom-bom peninggalan Perang Dunia II yang gagal meledak cukup sering ditemukan di Jerman meski perang sudah berakhir lebih dari 70 tahun.

Lebih dari 2.000 ton bom aktif dan amunisi ditemukan setiap tahunnya di Jerman, bahkan beberapa berada di bawah bangunan. Bahan-bahan peledak itu langsung dijinakkan atau sengaja diledakkan. Akan tetapi, seringkali penemuan mengakibatkan evakuasi massal bahkan kematian.

Menurut catatan sejarah seorang wartawan bernama Max Hastings, Darmstadt beberapa kali menjadi target serangan Inggris dan Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah serangan pada September 1944 saat 399 ton bom dengan daya ledak tinggi dan 580 ton bom bertipe batang dijatuhkan dari langit. Sekira 8.400 orang tewas dalam serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan pabrik pembuatan senjata Jerman di Darmstadt itu.

(Okezone.com)

 Keberadan Alifta Nan Rahfaida, remaja 16 tahun yang dikabarkan menghilang sejak dua hari lalu masih misterius. Belum diketahui keberadaannya sejak meninggalkan Stasiun Tugu Yogyakarta.

"Belum ketemu, masih dilakukan upaya pencarian," kata Heri, Ayah Alifta dikonfirmasi wartawan, Kamis (6/7/2017).

Pihaknya berharap agar masyarakat yang mangetahui keberadaan Alifta segera menghubungi  pihak keluarga. Nomor yang bisa dihubungi 085714684267 atau 08174857809.

Sebagaimana diketahui, Alifta dilaporkan hilang oleh keluarganya tak lama setelah tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta pada Selasa, 4 Juli 2017 lalu. Saat itu, dia baru saja tiba di Yogyakarta usai perjalanan dengan kereta api dari Jakarta bersama kakeknya, Surahyo (75)

Sang kakek berada di Musala untuk menunaikan ibadah salat subuh. Sementara Alifta keluar mencari makan, namun tidak pernah kembali lagi. Lalu, melaporkan ke pihak kepolisian dan juga memberitahukan anaknya dan menantunya (orangtua Alifta).

Heri langsung mencari tiket menuju Yogya begitu mendapat kabar putrinya hilang. Dia berangkat menuju di Stasiun Tugu Yogyakarta. Upaya pencarian dilakukan dengan mencetak foto terakhir Alifta.  Heri juga telah melihat rekaman CCTV di beberapa titik Stasiun Tugu, Yogyakarta. Polisi dari Polsek Gedongtengen juga sudah melakukan pemeriksaan di lokasi hilangnya Alifta

Panit 1 Reskrim Polsekta Gedongtengen Kota Yogyakarta, Ipda Haryadi, SH mengatakan usai mendapatkan laporan, pihaknya langsung melakukan penyelidikan bersama dengan petugas dari Stasiun Tugu Yogyakarta. "Kita sudah meminta keterangan beberapa saksi yang mengetahui kepergian Alifta sesuai dengan ciri-cirinya," katanya dikonfirmasi terpisah.

CCTV yang ada di seputar Stasiun Tugu juga telah diperiksa petugas. Hasil pemeriksaan CCTV dapat diketahui Alifta meninggalkanstasiun Tugu dari pintu sisi selatan sendirian tidak bersama dengan orang lain. "Sampai keluar pintu hingga jarak jangkauan CCTV untuk merekam, tidak ditemukan seseorang yang bersama Alifta," ucap dia.

Jika hanya mengacu pada hasil CCTV maka masih minim indikasi tindakan yang mengarah ke pidana. Meski demikian, pihaknya masih berusaha mencari keberadaan Alifta. "Masih jauh ke arah tindak pidana seperti penculikan," tutur dia.

Upaya pencarian tak hanya dilakukan koordinasi antar instansi, tapi juga menggunakan media sosial. Masyarakat dunia maya juga diminta peran aktif jika mengetahui Alifta. "Kita juga menganjurkan kepada keluarga untuk mem-posting kejadian hilangnya Alifta ke media sosial agar ada keterlibatan masyarakat untuk turut membantu pencarian," katanya.

(Okezone.com)

Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Polres Jepara, Jawa Tengah (Jateng) mengungkap dugaan pungutan liar di sekolah menengah pertama (SMP) di kabupaten itu dengan barang bukti uang senilai Rp61 juta.

Menurut Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho di Mapolres Jepara, pengungkapan dugaan pungli di salah satu SMP di Jepara itu berawal dari informasi masyarakat. Berbekal informasi adanya pungutan liar yang dilakukan oleh oknum guru di salah satu SMP di Jepara itu, Satgas Saber Pungli Polres Jepara melakukan pengeledahan dan penyelidikan.

Akhirnya, lanjut dia, terungkap ada oknum guru yang mengumpulkan orang tua murid untuk melakukan pungutan dengan alasan untuk membeli alat perlengkapan sekolah. Total uang yang terkumpul dari orang tua murid, katanya, mencapai Rp61 juta yang diduga berasal dari 25 calon wali murid.

Besarnya pungutan terhadap orang tua murid yang nilai anaknya rendah dengan dalih untuk membeli alat bantu pendidikan itu mencapai Rp2,5 juta setiap wali murid. Tindakan tersebut, lanjut dia, ternyata tidak ada dasar hukumnya, termasuk tidak ada keputusan dari wali murid.

“Saat ini, masih dalam proses penyidikan dan beberapa pihak yang berkepentingan juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan,” ujarnya seperti dilansir dari Harian Jogja, Kamis (6/7/2017).

Tim Saber Pungli Polres Jepara, kini telah merampas uang senilai Rp61 juta yang diduga hasil pungutan liar dari oknum guru salah satu SMP Negeri di Jepara sebagai barang bukti kasus tersebut.

Polisi juga telah memanggil 12 orang untuk dimintai keterangan, termasuk tiga guru yang menjadi panitia penerimaan siswa baru. Selanjutnya, polisi akan meminta keterangan dari sejumlah pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Jepara.

“Masyarakat silakan melapor ketika menemukan kasus serupa agar bisa ditindaklanjuti,” ujarnya.

Munculnya kasus dugaan pungutan liar pada penerimaan siswa baru tersebut, mendorong Pemkab Jepara segera memanggil semua kepala SMP negeri maupun Unit Pelaksana Teknis Pendidikan di Jepara untuk dimintai klarifikasinya.

Namun, hingga kini, Satgas Saber Pungli Polres Jepara belum menetapkan satu pun tersangka dalam kasus dugaan pungutan liar atau pungli di sekolah Jepara tersebut.

Nasib naas dialami oleh Sri Wardana,22, warga Kampung Jawa, belakang pasar Aviari Seken, kelurahan Buliang, Batuaji. Pemuda itu tewas setelah dianiaya oleh kelompok begal di depan Hotel Holi, simpang Tobing, Batuaji, Sabtu (1/6/2017) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

 

Wardana mengalami luka robek di wajah, dada, tangan serta luka lebam karena hantaman benda tumpul di bagian kepala. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam selama dua hari sebelum akhirnya meninggal, Senin (3/7/2017) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

Polsek Batuaji yang menerima laporan penganiayaan dan begal tersebut langsung bergerak cepat. Sarawi,20, Aldo,15, Rolan,18, serta Panca,16, empat dari lima pelaku begal tersebut langsung ditangkap di salah satu ruko di perumahan Senawangi, Batuaji Sabtu malam usai kejadian.

Sarawi ketua atau otak dari kompolotan pelaku begal tersebut dihadiahi timah panas di betisnya oleh polisi, sementara Vt, anggota begal lainnya berhasil kabur sebelum kelompoknya digrebek polisi.

Wardana saat itu menjemput salah satu adiknya yang bekerja di salah satu minimarket waralaba dekat hotel Holi. Saat melintas di jalanan sepih dari tempat tinggalnya sebelum hotel atau jalan utama di simpang Tobing, dia dihadang dan hendak dibegal oleh lima pelaku. Namun hadangan tersebut berhasil dielak oleh Wardana yang terus melaju menuju minimarket untuk menjemput adiknya. “Saat pulang jemput adiknya, korban lagi-lagi dihadang oleh para pelaku ini,” kata Kapolsek Batuaji Kompol Sujoko, siang tadi.

Namun hadangan tersebut lagi-lagi lolos. Karena tak dapat terget, para pelaku akhirnya meneriakan kata-kata kotor dan kasar kepada Wardana dan adiknya. Teriakan tersebut sepertinya tak diterima oleh Wardana. Usai mengantar sang adik ke rumah, Wardana akhirnya kembali menemui para pelaku tersebut. “Saat dia balik inilah, para pelaku menyerangnya sampai sekarat,” kata Sujoko.

Usai menganiaya korban hingga sekarat, kelima pelaku yang belakangan diketahui dari kelompok geng motor yang diberi nama Persatuan Junior Rantau Family atau PJR Family itu kabur dan bersembunyi di salah satu ruko di kawasan perumahan Senawangi. Korban yang dalam sekarat digotong warga yang kebetulan lewat ke RSUD.

Dari hasil pemeriksaan sementara para pelaku yang dibekuk tersebut juga diduga pelaku yang sama yang membegal dan menganiaya Sunandar korban lain di jalan yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. “Dua jam sebelumnya ada juga korban lain di lokasi jalan yang sama. Modusnya hampir sama, saat korban lewat mereka tariakin atau hadang. Korban yang pertama itu juga dipukulin mereka sampai babak belur,” ujar Sujoko.

Untuk sementara para pelaku tersebut dikenakan pasal 170 KUHP penganiayaan secara bersamaan yang menyebabkan korban meninggal dunia dengan ancaman 9 tahun penjara. Namun demikian tidak menutup kemungkinan akan dikenakan pasal lain jika penyelidikan selanjutnya membuktikan kalau mereka pernah melakukan aksi kriminal lainnya seperti ranmor, curat atau curas. “Sementara masih fokus ke kasus penganiayaan ini dulu. Curanmor, curat atau curas akan kami selidiki juga nanti,” ujar Sujoko.

Sarawi, Aldo, Rolan dan Panca saat kepada wartawan mengakui perbuatan mereka tersebut. Mereka mengaku nekad menganiaya Wardana karena Wardana menantang mereka. “Bawa pisau dia makanya kami keroyok dia,” kata Sarawi.

 

(Batampos.com)

 Puluhan guru honor di lingkungan Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika hingga hari ini masih menyegel pintu-pintu masuk kantor Dispendasbud Mimika itu.

Salah satu koordinator aksi demonstrasi guru honorer, Ignasius Rudin mengatakan pihaknya akan terus melakukan penyegelan hingga dana insentif mereka dibayarkan.

"Tidak ada negosiasi-negosiasi lagi, kami tidak mau negosiasi. Tidak ada yang boleh buka gembok pintu," kata Ignasius, Selasa (4/7/2017).

Akibat aksi gembok pintu tersebut, aktivitas dan pelayanan di kantor Dispendasbud hingga Selasa siang ini masih lumpuh. Kantor Dispendasbud Mimika sejak Senin (3/7) disegel para guru honorer yang meminta agar hak mereka segera diberikan.

Negosiasi yang tidak berujung pada jalan keluar yang dapat diterima kedua belah pihak menimbulkan kekecewaan para guru.

Terlihat sejumlah pegawai negeri dan honorer hanya berdiri saja di halaman dan tidak dapat beraktivitas di dalam kantor.

Sekretaris Dispendasbud Mimika Anton Bukaleng mengakui bahwa akibat dari aksi segel pintu kantor tersebut, sejumlah pelayanan tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

Kendati demikian, ia mengaku juga tidak dapat memaksa massa untuk membuka segel. Hal itu menurut Anton bukanlah kewenangannya. "Saya juga bawahan di sini, kami juga berharap agar Kepala Dispendasbud sendiri yang bisa berbicara dengan massa, sehingga persoalan ini ada jalan keluarnya," kata Anton.

Anton juga mengharapkan penyegelan kantor itu, tidak menjadi alasan pegawai untuk menambah libur atau dengan sengaja tidak datang berkantor.

"Pelayanan kepada masyarakat tidak terbatas ruang dan waktu, sehingga tidak menjadi alasan tidak berkantor," ujarnya lagi.

 

(Okezone.com)

Komisi V DPR melakukan kunjungan kerja ke Basarnas Kantor SAR Semarang untuk mengetahui secara mendalam soal penyebab jatuhnya helikopter milik institusi itu di Temanggung, Jawa Tengah, pada Minggu 2 Juli 2017.

Ketua Komisi V DPR RI, Fary Djemi Francis yang memimpin langsung kunjungan kerja tersebut di Semarang, Senin kemarin mengatakan ada beberapa hal yang harus didalami berkaitan dengan musibah itu.

"Kami ingin mendalami beberapa informasi, seperti kondisi cuaca saat itu, dan penghargaan yang diberikan kepada anggota penyelamat yang meninggal ini," kata politikus Partai Gerindra tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, hadir pula pihak dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Air Navigation (Air Nav) Cabang Semarang. Menurut Fary, kondisi cuaca saat kejadian masih menjadi pertanyaan mengingat BMKG telah dikucuri anggaran untuk pembelian berbagai peralatan berkaitan dengan prakiraan cuaca.

Sementara itu, Deputi Bidang Potensi Basarnas Marsda Dody Trisunu mengatakan helikopter jenis Dauphin yang jatuh tersebut dalam kondisi siap terbang. Heli tersebut, lanjut dia, disiagakan di tol darurat Gringsing selama arus mudik dan balik Lebaran 2017.

"Heli mendapat perintah untuk mengangkut tim penyelamat untuk membantu proses evakuasi kejadian letusan kawah Sileri di Dieng," katanya.

Heli tersebut diperintahkan ke Dieng untuk membantu jika sewaktu-waktu diperlukan evakuasi melalui udara terhadap letusan Kawah Sileri. Selain itu, lanjut Dody, keempat anggota Basarnas yang gugur tersebut memiliki kualifikasi untuk melakukan penyelamatan dengan menggunakan helikopter.

Badan Pengusahaan (BP) Batam telah menetapkan aturan main dalam pengalokasian lahan baru.

 

Melalui Peraturan Kepala (Perka) Nomor 11 Tahun 2017 pada bulan ini, alokasi lahan baru harus melalui mekanisme lelang.

“Alokasi lahan baru harus melalui lelang. Jadi tidak ada lagi main-main orang dalam,” kata Deputi III BP Batam, Eko Santoso Budianto, Kamis (29/6/2017).

Meskipun aturan main tentang mekanisme lelang telah ditetapkan, Eko pesimis cara ini akan berhasil.

Alasannya adalah tanah yang mau dialokasikan hanya tersisa sekitar 800 hektar dan itupun tersebar tidak merata. Bahkan lokasinya pun sangat tidak strategis.

“Siapa yang mau lahan di dekat jurang,” katanya.

Kerjasama sistem lelang memungkinkan bagi masyarakat dari berbagai kalangan untuk mengikutinya.

Sebelum mengalokasikannya, BP Batam akan terlebih dahulu memberikan status yang jelas kepada lahannya. Dimulai dari penerbitan Hak Pengelolaan Lahan (HPL)-nya dari BPN, tata ruang yang jelas dan lainnya.

Cara mengikuti lelang online nanti adalah dengan mengakses website BP Batam yang berisi peta alokasi lahan di kota Batam.

Pemohon dapat melihat lokasi mana saja yang belum dialokasikan dan lokasi mana yang sudah dialokasikan sehingga tidak akan lagi terjadi kekeliruan dan tumpang tindih lahan.

Selain pengaturan tentang mekanisme lelang lahan, Perka 22 juga mengatur tentang penghapusan kebijakan lama.

Kebijakan lama yang dianggap menghambat seperti izin prinsip, pencadangan lahan dan pembayaran UWTO secara cicilan akan ditiadakan.

“Tak ada lagi izin prinsip, pencadangan lahan, semuanya dulu sebenarnya tak ada tapi diada-adain,” tegasnya.

Eko meyakini dengan penerapan mekanisme alokasi lahan melalui lelang maka tidak akan ada lagi lahan yang ditelantarkan oleh penyewanya. Karena BP Batam akan terus memantau pembangunan lahan yang telah dialokasikan lewat sistem lelang.

“Ini untuk mengantisipasi lahan-lahan tidur,” imbuhnya.

Sedangkan akademisi dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah), Rafki Rasyid mengapresiasi langkah BP Batam dalam menerapkan sistem online.

“Kalau kita lihat terobosan BP Batam ini bagus supaya kurangi pungli,” jelasnya.

Dengan sistem online, dia meyakini tidak akan ada lagi permainan-permainan kotor untuk memuluskan aksi dalam proses alokasi lahan.

“Bagus sekali, takkan ada lagi nego-nego, tak ada biaya-biaya siluman lagi. Pantas diapresiasi karena BP Batam berkomitmen untuk mengurusi lahan,” tambahnya lagi.

Namun di sisi lain, BP Batam harus menjaga agar sistemnya tetap online dan mengantisipasi gangguan hacker.

“Jika terjadi gangguan nanti pasti akan menghambat pelayanan. BP Batam harus berupaya untuk menjaga sistemnya,” pungkasnya.

 

(Batampos.co.id)

Asyik di Facebook