Nov 16, 2018 Last Updated 9:46 AM, Nov 16, 2018
Nasional

Nasional (517)

Bentrok antara warga Penjaringan dan petugas Polres Jakarta Utara membuat dua anggota polisi menderita luka. Bentrok ini dipicu warga yang menolak kedatangan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat akan meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Kapolres Jakarta Utara Kombes Pol Boly Tifaona mengatakan, bentrokan terjadi karena kepolisian telah mengelabui masyarakat dengan menipu jalur masuk-keluar Ahok.

"Warga semakin kesal dengan kami karena terus menerus kami hadang. Wajar, karena sudah tugas kami melindungi beliau (Ahok)," jelas Bolly kepada wartawan, Kamis (23/6/2016). 

Bolly mengakui mobil yang ditumpangi Ahok nyaris diamuk massa. Namun karena ketatnya penjagaan, membuat aksi anarkis berhasil dicegah.

Akibat kejadian ini, dua orang petugas terluka, yakni Kanit Reskrim Polsek Penjaringan dan Kasie Propam Polres Jakut setelah menerima lemparan batu dari massa. Keduanya terluka di bagian dahi.

Anggota DPRD dari Fraksi Gerindra, Prabowo Soenirman menyayangkan kejadian ini. Menurutnya, kejadian itu tak lepas dari tutur kata hingga sikap Ahok yang arogan.

Prabowo menyarankan kepada Ahok agar menjaga tutur katanya. Segala sikap yang menganggu kondusifitas harus dihilangkan demi hubungan baik dengan masyarakat.

(okezone)

Ketika ulang tahun (ultah) Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi) hari ini, Selasa, 21 Juni 2016 banyak diingat orang, justru wafatnya sang proklamator, Ir. Soekarno di hari yang sama 46 tahun silam, banyak luput dari benak rakyat Indonesia.

Me-refresh ingatan kembali tentang sosoknya, “Putra Sang Fajar” (julukan Soekarno) tutup usia pada 21 Juni 1970 setelah lima tahun berjuang melawan gangguan organ ginjal kirinya.

Dalam masa akhir hayatnya itu, Soekarno yang jadi pesakitan sebagai tahanan politik dan hidup “terpenjara” di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Jakarta), sempat dilarikan ke RSPAD karena kondisinya yang gawat.

Tapi nyawanya tak tertolong. “Sang Penyambung Lidah Rakyat” dipanggil Sang Pencipta. Segenap rakyat yang sedianya dilarang menghadiri prosesi iring-iringan jenazah Soekarno, seolah tak menanggapi imbauan pemerintah yang kala itu sudah di bawah rezim Soeharto.

Isak tangis pasang mata yang tak terhingga jumlahnya menyertai konvoi mobil jenazah Soekarno dari Wisma Yaso menuju Bandara Halim Perdanakusuma untuk kemudian, diterbangkan ke Blitar, Jawa Timur, di mana Soekarno diputuskan Presiden Soeharto, dimakamkan di samping mendiang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai.

Kabar duka ini ternyata tidak hanya disoroti masyarakat dan media nasional. Sejumlah surat kabar asing pun ikut memberitakan kematian pria yang punya pengaruh besar di antara memanasnya Perang Dingin antara Blok Barat vs Blok Timur tersebut.

Dari media-media Asia hingga Amerika Serikat (AS), kematian Soekarno turut jadi perhatian publik internasional. Seperti yang diberitakanSarasota Journal, surat kabar asal Florida.

Dengan melansir berita dari AP (Associated Press), surat kabar AS edisi 22 Juni 1970 tersebut menyebutkan bahwa sekira 100 ribu warga Indonesia berjajar sepanjang 12,5 mil dari Wisma Yaso ke Bandara Halim sembari menangis.

Hal serupa juga diberitakan surat kabar Newsweek edisi 29 Juni 1970,Manila Chronicle (Filipina), Manila Daily Buletin (Filipina), South China Morning Post (China) , Hong Kong Standard, hingga tiga media asal Belanda; Alegemeen HandlesbladVrij Nederland edisi 27 Juni 1970) dan Het Parool.

(okezone)

Seorang pegawai negeri sipil (PNS) bernama Doni (36) ditangkap polisi di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Warga Desa Karang Anyar, Rupit itu diringkus karena diduga mendalangi aksi perampokan terhadap sopir truk di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Doni bersama rekannya, Fery (24), warga Lawang Agung Rupit dilaporkan merampok Rozi Armedi (26), warga Desa Rantau Tenang, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Aksi itu dilakukan saat Rozi menyetir truk colt diesel dari Jambi menuju Lubuklinggau.

Kapolsek Rupit, Iptu Ujang Abu mengatakan, setibanya di lokasi korban diberhentikan oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio J. Pelaku masuk ke mobil korban dan menjarah handphone Nokia, satu SIM B, KTP, dan uang milik korban Rp550 ribu. Keduanya langsung kabur usai beraksi. Doni diduga otak perampokan itu.

‎"Usai menerima laporan dari korban, anggota Polsek Rupit melaksanakan pengintaian terhadap para pelaku dan sekira pukul 03.39 WIB polisi berhasil meringkus kedua pelaku yang sedang duduk di pinggir Jalinsum. Keduanya langsung diamankan ke Mapolsek Rupit, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya" ujar Ujang, Selasa (21/6/2016).

Plh Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Muratara, Burdani Akil mengatakan, Doni terakhir kali berdinas di Kecamatan Ulu Rawas, sebelum bertugas di Satpol Pol Muratara pada bagian Damkar.

"Pemkab Muratara masih menunggu proses hukum yang akan dijalani yang bersangkutan, jadi kita menunggu inkrah dari pengadilan. Baru kita bisa menjatuhkan sanksi tegas terhadap Doni. Namun sementara ini kita tetap melayangkan surat untuk penundaan gaji atau penurunan pangkat," pungkasnya.Seorang pegawai negeri sipil (PNS) bernama Doni (36) ditangkap polisi di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Warga Desa Karang Anyar, Rupit itu diringkus karena diduga mendalangi aksi perampokan terhadap sopir truk di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Doni bersama rekannya, Fery (24), warga Lawang Agung Rupit dilaporkan merampok Rozi Armedi (26), warga Desa Rantau Tenang, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Aksi itu dilakukan saat Rozi menyetir truk colt diesel dari Jambi menuju Lubuklinggau.

Kapolsek Rupit, Iptu Ujang Abu mengatakan, setibanya di lokasi korban diberhentikan oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio J. Pelaku masuk ke mobil korban dan menjarah handphone Nokia, satu SIM B, KTP, dan uang milik korban Rp550 ribu. Keduanya langsung kabur usai beraksi. Doni diduga otak perampokan itu.

‎"Usai menerima laporan dari korban, anggota Polsek Rupit melaksanakan pengintaian terhadap para pelaku dan sekira pukul 03.39 WIB polisi berhasil meringkus kedua pelaku yang sedang duduk di pinggir Jalinsum. Keduanya langsung diamankan ke Mapolsek Rupit, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya" ujar Ujang, Selasa (21/6/2016).

Plh Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Muratara, Burdani Akil mengatakan, Doni terakhir kali berdinas di Kecamatan Ulu Rawas, sebelum bertugas di Satpol Pol Muratara pada bagian Damkar.

"Pemkab Muratara masih menunggu proses hukum yang akan dijalani yang bersangkutan, jadi kita menunggu inkrah dari pengadilan. Baru kita bisa menjatuhkan sanksi tegas terhadap Doni. Namun sementara ini kita tetap melayangkan surat untuk penundaan gaji atau penurunan pangkat," pungkasnya.

(okezone)

Dua serangan bom bunuh diri yang terjadi di dalam dan di sekitar ibu kota Irak, Baghdad pada Kamis, 9 Juni telah menewaskan 31 orang dan melukai puluhan lainnya. Demikian keterangan dari pejabata terkait.

Serangan paling mematikan terjadi daerah perdagangan di lingkungan mayoritas Syiah di Baghdad. Dalam serangan itu, setidaknya 19 orang tewas dan 46 lainnya mengalami luka-luka. Demikian laporan yang dilansir Guardian, Jumat (10/6/2016).

Sedangkan serangan lainnya terjadi di sebuah pos penjagaan di utara Baghdad saat pelaku menabrakkan mobilnya dan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 32 orang lainnya. Sebanyak tujuh orang warga sipil dan lima orang pasukan terbunuh dalam serangan di Kota Taji yang berjarak 20 kilometer dari Baghdad.

Kelompok militan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut. Mereka mengatakan bahwa serangan yang terjadi di Baghdad menargetkan warga Syiah, sedangkan serangan di Kota Taji menargetkan pasukan keamanan Irak.

Para pejabat Irak menganggap kedua serangan tersebut sebagai upaya ISIS untuk mengalihkan perhatian pemerintah dari garis depan pertempuran melawan kelompok teror itu.

(okezone)

Seorang perempuan paruh baya di Australia dilaporkan tewas usai saksi mata melihat perempuan malang tersebut diserang oleh seekor ikan hiu berukuran lima setengah meter.

Kepolisian Australia mengatakan korban yang berusia 60 tahun diserang oleh hiu ketika sedang menyelam dengan seorang pria di Mindarie yang berlokasi di Perth pada Minggu 5 Juni 2016.

Teman korban menuturkan ia merasa ada sesuatu yang melewati tubuhnya sebelum korban diserang, namun ia tidak sadar bahwa yang melewatinya adalah seekor ikan hiu.

Ketika korban diserang, tiga nelayan yang berada di dekat lokasi berusaha mengatur perahu yang mereka naiki sehingga dapat menyelamatkan korban. Namun, sayangnya nyawa korban tidak terselamatkan.

Inspektur Polisi Danny Mulligan memaparkan teman menyelam korban berhasil menarik keluar korban keluar dari air setelah korban diserang.

“Perahu yang pada saat itu berada di air memiliki panjang lima setengah meter. Dan mereka mengatakan hiu tersebut berukuran lebih panjang dibanding perahu,” ujar Mulligan, sebagaimana dilansir dariIndependent, Senin (6/6/2016).

Serangan hiu ini hanya berselang kurang dari satu pekan usai seorang peselancar di Australia kehilangan kakinya akibat serangan hiu.

Indonesia disebut oleh Wamenlu RI, A M Fachir sebagai sebuah negara yang besar karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Kendati demikian, bangsa Indonesia tidak bangga dengan kelebihan tersebut, minder, dan masih menganggap diri sebagai negara kecil.

“Indonesia besar, tapi bersikap tidak seperti negara besar,” ujar Fachir saat membuka peluncuran buku di UIN Jakarta.

Selama ini, Indonesia dianggap memiliki banyak kelebihan dan prestasi dibandingkan negara lain. Secara jumlah penduduk, Indonesia memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia dan jumlah pulau yang tak terhitung.

Dalam segi ekonomi, Indonesia masuk dalam kelompok G-20. Bahkan, Indonesia adalah negara berdemokrasi keempat di dunia. 

“Indonesia masuk G-20, negara demokrasi nomor empat, Muslim terbesar, dan memiliki banyak pulau. Kurang besar apalagi kita (Indonesia) ini. Akan sangat disayangkan, jika negara sebesar ini masih berperilaku seperti negara kecil,” ujar A M Fachir

(okezone)

DEKLARASI Hak Asasi Manusia (HAM) Universal yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948 di Palais dec Chaillot, Paris, memaktubkan dalam Pasal 19 bahwa setiap orang di dunia memiliki hak dan kebebasan untuk berpendapat serta berekspresi. Deklarasi HAM ini termasuk kebebasan memegang teguh pendapatnya tanpa gangguan, serta kebebasan untuk mencari, menerima, maupun menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa pun tanpa batasan. Aturan ini diadopsi oleh sedikitnya 150 negara di dunia.

Faktanya, pembatasan-pembatasan terhadap demonstrasi tetap saja ada, bahkan di negara yang sudah menjamin kebebasan berpendapat dalam konstitusinya. Pemerintah menetapkan tempat-tempat mana saja yang boleh dipakai untuk berunjuk rasa, menentukan batasan waktu, dan menuntut pengajuan izin terlebih dahulu.

Menembakkan meriam air, gas air mata, barikade polisi antihuru-hara yang tak jarang diikuti tongkat-tongkat yang melayang ke kepala dan tubuh demonstran yang menolak dibubarkan, seolah sudah menjadi prosedur standar di setiap negara untuk menghentikan aksi protes masyarakat.

Amerika Serikat (AS) misalnya, memiliki Amendemen Pertama yang menjamin kebebasan berpendapat. Akan tetapi ketika sebuah pemberitaan sudah menyasar pada borok tokoh politik, militer dan tubuh pemerintahan, atau dianggap unjuk rasanya terlalu berlebihan, tetap saja pemerintah akan turun tangan membungkam kebebasan yang diagung-agungkan itu.

Pada 2014 misalnya, unjuk rasa di Kota Ferguson, Missouri, AS, dimentahkan oleh pasukan keamanan lokal menggunakan senapan, tank, dan senapan serbu M-4. Presiden Barack Obama kemudian mengecam tindakan para polisi antihuru-hara di negara bagian tersebut. Sejak saat itu presiden pertama berkulit hitam di Negeri Paman Sam itu pun memperkenalkan undang-undang baru yang melarang polisi menggunakan persenjataan militer untuk membubarkan massa.

Meski demikian, AS bukan satu-satunya negara yang memiliki sejarah kekerasan atau bentrokan antara aparat dan pengunjuk rasa. Negara federal ini juga masih terbilang sangat layak untuk warga negaranya menyampaikan kritik terhadap seseorang, perusahaan, organisasi, hingga pemerintah.

1. Palestina

Palestina menjadi salah satu negara di dunia yang terbilang paling berbahaya untuk melakukan unjuk rasa. Hal ini disebabkan kondisi negaranya yang belum sepenuhnya merdeka. Selama lebih dari lima dekade, rakyat Palestina hidup miskin dan menderita di bawah penjajahan dan okupasi Israel di tanah mereka.

Meski kedaulatannya sebagai negara sudah diakui 193 negara per periode 18 Januari 2012, pasukan Israel tetap melakukan agresi di teritori tetangga terdekatnya itu, mengambil lahan mereka, merampas pasokan air bersih, hingga memblokade jalur udara mereka.

Berdasarkan data Amnesty International, kondisi ini memicu pemberontakan. Rakyat Palestina menyebarkan aksi protes di mana-mana. Seringnya, semua aksi itu berujung pada tindak kekerasan, terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pihak berwenang Israel menerapkan kebijakan baru yang lebih keras untuk menindak para pengunjuk rasa yang adalah warga Palestina di kawasan okupasi ketika gelombang kekerasan tengah meningkat di sana pada Oktober 2015. Per periode Oktober–Desember 2015 itulah lebih dari 2.500 warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak, ditahan oleh pasukan Israel. Dengan catatan, sedikitnya 130 pelaku protes terbunuh dalam aksinya.

2. Turki

Negara kedua terparah dalam menindak pengunjuk rasa adalah Turki. Terdapat sejarah kekerasan panjang di negara sekuler ini yang melibatkan ketegangan antara polisi dan demonstran.

Padahal, konstitusi Turki menyatakan, “Setiap orang memiliki hak untuk mengadakan pertemuan tidak bersenjata dan damai dan berdemonstrasi ke jalan tanpa mengajukan perizinan terlebih dahulu.”

Namun yang terjadi di lapangan menunjukkan sebaliknya. Mengkritik presiden bisa dikenai sanksi pidana dan denda. Pada suatu kasus, hubungan rumah tangga terancam retak hanya karena sang istri tidak menyukai Erdogan, dan suaminya merasa itu sikap yang tidak patut melaporkan istrinya ke polisi.

Sementara secara masif, pada periode 2013–2014, jutaan orang yang berdemonstrasi di ruang publik Turki dibubarkan paksa oleh pasukan antihuru-hara. Sedikitnya 45 pengunjuk rasa meninggal, 8.000 orang terluka, ribuan lainnya ditahan, dan ratusan orang menerima dakwaan di pengadilan.

3. Mesir

Di atas kedua negara tersebut, Mesir faktanya menjadi negara terburuk di dunia untuk melakukan protes. Diukur dari banyaknya jumlah pengunjuk rasa yang meninggal saat gelombang Arabian Spring pecah di negara beribukotakan Kairo tersebut pada 2011. Lebih dari 800 demonstran terbunuh dan 6.000 lainnya terluka.