Jan 22, 2019 Last Updated 9:31 AM, Jan 16, 2019

Hingga kini, polisi belum menyimpulkan Agus Wiguna, pelaku perakit bom panci yang meledak di Sekejati Kota Bandung pada Sabtu 8 Juli 2017 berhubungan dengan jaringan teror lainnya.

Kendati demikian, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan bahwa Agus Wiguna diketahui telah berbaiat ke ISIS dan menyatakan dirinya bergabung ke Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung.

"Jadi dia memang ada satu kegiatan di masjid yang di Bandung sana. Kelihatannya itu yang memicu dia untuk mendalami melalui gadget di akun-akun radikal," kata Irjen Setyo di kantornya Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2016).

Melalui akun-akun radikal itu pula Agus mempelajari pemahaman radikal dan memicunya untuk menjadi "lone wolf" jihad.

"Sekarang ini banyak akun-akun radikal. Mau masuknya susah harus ada verifikasi-verifikasi tertentu dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Sehingga, kepada masyarakat kita yang masih terbatas pemahamannya ketika dia masuk ke akun itu lalu terpapar, terpengaruh dan terkontaminasi bahan-bahan radikal dan itulah yang memicu mereka menjadi leaderless jihad," terangnya.

Menjadi lone wolf, sambungnya, dikarenakan Agus merasa pemahaman yang dia terima melalui gadget ini adalah sudah benar.

Karena itu, Setyo mengatakan pihaknya terus mendalami apakah Agus terhubung dengan kelompok yang lain atau tidak.

"Belum, karena untuk memastikan bahwa dia berhubung dengan seseorang atau terhubung dengan satu kelompok itu penyidik kita harus mendapatkan bukti-bukti adanya kontak secara Komunikasi," ujarnya.

Selanjutnya, penyidik juga harus menemukan bukti bahwa pelaku melakukan kontak fisik dengan mentor atau jaringan teror tersebut.

"Yang kedua adalah kontak fisik artinya dia ketemu yang bersangkutan di mana dengan mentornya dia, kalau tidak kita tidak bisa menetukan kalau dia terkait dengan A terkait dengan B tidak boleh begitu," katanya.

 

(Okezone.com)

Tagged under

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan kasus penyerangan terhadap ahli telematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Hermasyah (46) berawal dari senggol-senggolan mobil di Tol Jagorawi, Jakarta Timur pada Minggu dini hari 9 Juli 2017.

"Itu faktanya (senggol-senggolan mobil) bukan benar atau enggaknya. Kan polisi mengambil keterangan dari saksi, saksinya kan yang ada di sebelahnya," kata Rikwanto di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Senin (12/7/2017).

Sementara untuk ciri-ciri pelaku, kepolisian masih mendalami siapa yang membacok Hermasyah saat baru saja pulang bersama istri dari makan malam perayaan ulang tahun istrinya.

"Kita lagi kompilasikan ada kekhasan itu, di jalan perilaku seperti itu siapa, yang biasa tengah malam di jalan siapa, yang kalau berantem pakai parang bacok-bacok itu siapa. Mudah-mudahan ya kan polisi punya daftar rujukan kasus-kasus yang mirip seperti itu," katanya.

Saat ini polisi sendiri belum mencurigai satu orang pelaku pun. Sebab, proses penyelidikan masih berlanjut. "Belum ada mengarah ke siapa-siapa. Kita lagi dalami (keterangan istri Hermansyah) kan istrinya syok juga," katanya.

Saat ini, Hermansyah sendiri masih dirawat di RSPAD, Jakarta Pusat dan kondisinya sudah membaik. "Tadi saya dapat laporan dari Kapolres Depok sekarang sudah sadar dan bisa diajak bicara jadi masih di ICU memang tapi kondisi setelah operasi membaik. Jadi kondisinya normal," tukasnya.

 

(Okezone.com)

Tagged under

Polresta Denpasar, Bali, menetapkan enam tersangka dalam kasus pembunuhan seorang anggota TNI. Yang mengejutkan, lima orang di antaranya masih di bawah umur dengan status pelajar.

"Kami lanjutkan kasus ini, tetapi karena ini anak (di bawah umur) berarti penanganannya 15 hari dan bisa diperpanjang. Kami mengacu ke Undang-Undang Anak," kata Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Hadi Purnomo di Denpasar, Senin (10/7/2017).

Selain telah menetapkan enam tersangka, polisi juga telah memeriksa lima orang saksi terkait kasus pembunuhan anggota TNI, Yanuar Setiawan (20) berpangkat Prada yang saat ini masih dalam pendidikan infanteri di Singaraja.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Aris Purwanto mengatakan rata-rata lima orang tersangka berusia muda hingga 16 tahun, yakni berinsial CI, AAJA, KTS, FA serta pelaku lainnya DKDA (16) merupakan pelaku utama yang menikam korban dengan sebilah pisau dan diketahui merupakan anak anggota DPRD Provinsi Bali.

Sedangkan satu tersangka lain berinisial RA (19) merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Ia mengatakan bahwa motif pembunuhan tersebut diduga karena ketersinggungan.

Saat itu, kata dia, baik korban dan para pelaku yang mengendarai sepeda motor tengah dalam perjalanan dari arah Kuta menuju Nusa Dua pada Minggu kemarin sekitar pukul 05.00 Wita tepatnya di seberang SPBU menuju kawasan Nusa Dua yang merupakan tempat kejadian pertama.

"Mereka saling salip dan berhenti kemudian cekcok dan terjadi perkelahian yang menyebabkan satu korban meninggal dunia," katanya.

Aris menuturkan teman korban yang juga melintas di tempat yang sama kemudian menanyakan peristiwa itu dan diduga terjadi perselisihan di antara kedua kelompok. Dua pelaku di tempat pertama yakni CI dan RA kemudian mengejar teman korban yang berjarak sekitar 30 meter dari tempat pertama bersama dengan tiga pelaku lainnya.

"Kami akan proses hukum sesuai ketentuan. Kalau (pelaku) anak-anak kami ikuti aturan (UU Anak)," ucapnya.

Korban Yanuar Setiawan tidak dapat tertolong meski sebelumnya sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dan kini jenazah korban sudah dititipkan di RSUP Sanglah Denpasar.

 

(Okezone.com)

Tagged under

Tim penjinak bom Kepolisian Darmstadt, Jerman, tiba-tiba dipanggil ke sebuah taman kanak-kanak (TK). Gara-garanya, seorang siswa membawa sebuah bom peninggalan Perang Dunia II ke dalam kelas.

Siswa itu mengaku menemukan bahan peledak tersebut saat berjalan-jalan di hutan. Ia membawa bom itu ke dalam kelas karena menganggap benda itu unik. TK tersebut seketika heboh ketika seorang guru menelefon polisi dan staf lainnya mengawal para siswa keluar dari sekolah.

“Seorang anak menemukan bahan peledak bertipe tongkat saat berjalan-jalan di hutan dan membawanya ke dalam sekolah,” terang juru bicara Kepolisian Darmstadt, Andrea Loeb, melansir dari Sky News, Kamis (6/7/2017).

Ahli bom dari kepolisian berhasil menjinakkan bahan peledak tersebut. Para siswa kemudian tetap dikawal saat kembali masuk ke sekolah. Sementara itu, tim penjinak bom menyisir hutan tempat anak yang tidak diketahui namanya itu menemukan bom. Akan tetapi, mereka tidak berhasil menemukan bom sisa peninggalan Perang Dunia lainnya.

Usai insiden tersebut, polisi menerbitkan imbauan agar siapa pun yang menemukan benda-benda yang dipercaya sebagai senjata untuk segera memanggil layanan darurat. Sebab, bom-bom peninggalan Perang Dunia II yang gagal meledak cukup sering ditemukan di Jerman meski perang sudah berakhir lebih dari 70 tahun.

Lebih dari 2.000 ton bom aktif dan amunisi ditemukan setiap tahunnya di Jerman, bahkan beberapa berada di bawah bangunan. Bahan-bahan peledak itu langsung dijinakkan atau sengaja diledakkan. Akan tetapi, seringkali penemuan mengakibatkan evakuasi massal bahkan kematian.

Menurut catatan sejarah seorang wartawan bernama Max Hastings, Darmstadt beberapa kali menjadi target serangan Inggris dan Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah serangan pada September 1944 saat 399 ton bom dengan daya ledak tinggi dan 580 ton bom bertipe batang dijatuhkan dari langit. Sekira 8.400 orang tewas dalam serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan pabrik pembuatan senjata Jerman di Darmstadt itu.

(Okezone.com)

Tagged under

 Keberadan Alifta Nan Rahfaida, remaja 16 tahun yang dikabarkan menghilang sejak dua hari lalu masih misterius. Belum diketahui keberadaannya sejak meninggalkan Stasiun Tugu Yogyakarta.

"Belum ketemu, masih dilakukan upaya pencarian," kata Heri, Ayah Alifta dikonfirmasi wartawan, Kamis (6/7/2017).

Pihaknya berharap agar masyarakat yang mangetahui keberadaan Alifta segera menghubungi  pihak keluarga. Nomor yang bisa dihubungi 085714684267 atau 08174857809.

Sebagaimana diketahui, Alifta dilaporkan hilang oleh keluarganya tak lama setelah tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta pada Selasa, 4 Juli 2017 lalu. Saat itu, dia baru saja tiba di Yogyakarta usai perjalanan dengan kereta api dari Jakarta bersama kakeknya, Surahyo (75)

Sang kakek berada di Musala untuk menunaikan ibadah salat subuh. Sementara Alifta keluar mencari makan, namun tidak pernah kembali lagi. Lalu, melaporkan ke pihak kepolisian dan juga memberitahukan anaknya dan menantunya (orangtua Alifta).

Heri langsung mencari tiket menuju Yogya begitu mendapat kabar putrinya hilang. Dia berangkat menuju di Stasiun Tugu Yogyakarta. Upaya pencarian dilakukan dengan mencetak foto terakhir Alifta.  Heri juga telah melihat rekaman CCTV di beberapa titik Stasiun Tugu, Yogyakarta. Polisi dari Polsek Gedongtengen juga sudah melakukan pemeriksaan di lokasi hilangnya Alifta

Panit 1 Reskrim Polsekta Gedongtengen Kota Yogyakarta, Ipda Haryadi, SH mengatakan usai mendapatkan laporan, pihaknya langsung melakukan penyelidikan bersama dengan petugas dari Stasiun Tugu Yogyakarta. "Kita sudah meminta keterangan beberapa saksi yang mengetahui kepergian Alifta sesuai dengan ciri-cirinya," katanya dikonfirmasi terpisah.

CCTV yang ada di seputar Stasiun Tugu juga telah diperiksa petugas. Hasil pemeriksaan CCTV dapat diketahui Alifta meninggalkanstasiun Tugu dari pintu sisi selatan sendirian tidak bersama dengan orang lain. "Sampai keluar pintu hingga jarak jangkauan CCTV untuk merekam, tidak ditemukan seseorang yang bersama Alifta," ucap dia.

Jika hanya mengacu pada hasil CCTV maka masih minim indikasi tindakan yang mengarah ke pidana. Meski demikian, pihaknya masih berusaha mencari keberadaan Alifta. "Masih jauh ke arah tindak pidana seperti penculikan," tutur dia.

Upaya pencarian tak hanya dilakukan koordinasi antar instansi, tapi juga menggunakan media sosial. Masyarakat dunia maya juga diminta peran aktif jika mengetahui Alifta. "Kita juga menganjurkan kepada keluarga untuk mem-posting kejadian hilangnya Alifta ke media sosial agar ada keterlibatan masyarakat untuk turut membantu pencarian," katanya.

(Okezone.com)

Tagged under

Asyik di Facebook