Oct 18, 2018 Last Updated 12:56 PM, Oct 16, 2018

Seorang perempuan paruh baya di Australia dilaporkan tewas usai saksi mata melihat perempuan malang tersebut diserang oleh seekor ikan hiu berukuran lima setengah meter.

Kepolisian Australia mengatakan korban yang berusia 60 tahun diserang oleh hiu ketika sedang menyelam dengan seorang pria di Mindarie yang berlokasi di Perth pada Minggu 5 Juni 2016.

Teman korban menuturkan ia merasa ada sesuatu yang melewati tubuhnya sebelum korban diserang, namun ia tidak sadar bahwa yang melewatinya adalah seekor ikan hiu.

Ketika korban diserang, tiga nelayan yang berada di dekat lokasi berusaha mengatur perahu yang mereka naiki sehingga dapat menyelamatkan korban. Namun, sayangnya nyawa korban tidak terselamatkan.

Inspektur Polisi Danny Mulligan memaparkan teman menyelam korban berhasil menarik keluar korban keluar dari air setelah korban diserang.

“Perahu yang pada saat itu berada di air memiliki panjang lima setengah meter. Dan mereka mengatakan hiu tersebut berukuran lebih panjang dibanding perahu,” ujar Mulligan, sebagaimana dilansir dariIndependent, Senin (6/6/2016).

Serangan hiu ini hanya berselang kurang dari satu pekan usai seorang peselancar di Australia kehilangan kakinya akibat serangan hiu.

Tagged under

Indonesia disebut oleh Wamenlu RI, A M Fachir sebagai sebuah negara yang besar karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Kendati demikian, bangsa Indonesia tidak bangga dengan kelebihan tersebut, minder, dan masih menganggap diri sebagai negara kecil.

“Indonesia besar, tapi bersikap tidak seperti negara besar,” ujar Fachir saat membuka peluncuran buku di UIN Jakarta.

Selama ini, Indonesia dianggap memiliki banyak kelebihan dan prestasi dibandingkan negara lain. Secara jumlah penduduk, Indonesia memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia dan jumlah pulau yang tak terhitung.

Dalam segi ekonomi, Indonesia masuk dalam kelompok G-20. Bahkan, Indonesia adalah negara berdemokrasi keempat di dunia. 

“Indonesia masuk G-20, negara demokrasi nomor empat, Muslim terbesar, dan memiliki banyak pulau. Kurang besar apalagi kita (Indonesia) ini. Akan sangat disayangkan, jika negara sebesar ini masih berperilaku seperti negara kecil,” ujar A M Fachir

(okezone)

Tagged under

DEKLARASI Hak Asasi Manusia (HAM) Universal yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948 di Palais dec Chaillot, Paris, memaktubkan dalam Pasal 19 bahwa setiap orang di dunia memiliki hak dan kebebasan untuk berpendapat serta berekspresi. Deklarasi HAM ini termasuk kebebasan memegang teguh pendapatnya tanpa gangguan, serta kebebasan untuk mencari, menerima, maupun menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa pun tanpa batasan. Aturan ini diadopsi oleh sedikitnya 150 negara di dunia.

Faktanya, pembatasan-pembatasan terhadap demonstrasi tetap saja ada, bahkan di negara yang sudah menjamin kebebasan berpendapat dalam konstitusinya. Pemerintah menetapkan tempat-tempat mana saja yang boleh dipakai untuk berunjuk rasa, menentukan batasan waktu, dan menuntut pengajuan izin terlebih dahulu.

Menembakkan meriam air, gas air mata, barikade polisi antihuru-hara yang tak jarang diikuti tongkat-tongkat yang melayang ke kepala dan tubuh demonstran yang menolak dibubarkan, seolah sudah menjadi prosedur standar di setiap negara untuk menghentikan aksi protes masyarakat.

Amerika Serikat (AS) misalnya, memiliki Amendemen Pertama yang menjamin kebebasan berpendapat. Akan tetapi ketika sebuah pemberitaan sudah menyasar pada borok tokoh politik, militer dan tubuh pemerintahan, atau dianggap unjuk rasanya terlalu berlebihan, tetap saja pemerintah akan turun tangan membungkam kebebasan yang diagung-agungkan itu.

Pada 2014 misalnya, unjuk rasa di Kota Ferguson, Missouri, AS, dimentahkan oleh pasukan keamanan lokal menggunakan senapan, tank, dan senapan serbu M-4. Presiden Barack Obama kemudian mengecam tindakan para polisi antihuru-hara di negara bagian tersebut. Sejak saat itu presiden pertama berkulit hitam di Negeri Paman Sam itu pun memperkenalkan undang-undang baru yang melarang polisi menggunakan persenjataan militer untuk membubarkan massa.

Meski demikian, AS bukan satu-satunya negara yang memiliki sejarah kekerasan atau bentrokan antara aparat dan pengunjuk rasa. Negara federal ini juga masih terbilang sangat layak untuk warga negaranya menyampaikan kritik terhadap seseorang, perusahaan, organisasi, hingga pemerintah.

1. Palestina

Palestina menjadi salah satu negara di dunia yang terbilang paling berbahaya untuk melakukan unjuk rasa. Hal ini disebabkan kondisi negaranya yang belum sepenuhnya merdeka. Selama lebih dari lima dekade, rakyat Palestina hidup miskin dan menderita di bawah penjajahan dan okupasi Israel di tanah mereka.

Meski kedaulatannya sebagai negara sudah diakui 193 negara per periode 18 Januari 2012, pasukan Israel tetap melakukan agresi di teritori tetangga terdekatnya itu, mengambil lahan mereka, merampas pasokan air bersih, hingga memblokade jalur udara mereka.

Berdasarkan data Amnesty International, kondisi ini memicu pemberontakan. Rakyat Palestina menyebarkan aksi protes di mana-mana. Seringnya, semua aksi itu berujung pada tindak kekerasan, terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pihak berwenang Israel menerapkan kebijakan baru yang lebih keras untuk menindak para pengunjuk rasa yang adalah warga Palestina di kawasan okupasi ketika gelombang kekerasan tengah meningkat di sana pada Oktober 2015. Per periode Oktober–Desember 2015 itulah lebih dari 2.500 warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak, ditahan oleh pasukan Israel. Dengan catatan, sedikitnya 130 pelaku protes terbunuh dalam aksinya.

2. Turki

Negara kedua terparah dalam menindak pengunjuk rasa adalah Turki. Terdapat sejarah kekerasan panjang di negara sekuler ini yang melibatkan ketegangan antara polisi dan demonstran.

Padahal, konstitusi Turki menyatakan, “Setiap orang memiliki hak untuk mengadakan pertemuan tidak bersenjata dan damai dan berdemonstrasi ke jalan tanpa mengajukan perizinan terlebih dahulu.”

Namun yang terjadi di lapangan menunjukkan sebaliknya. Mengkritik presiden bisa dikenai sanksi pidana dan denda. Pada suatu kasus, hubungan rumah tangga terancam retak hanya karena sang istri tidak menyukai Erdogan, dan suaminya merasa itu sikap yang tidak patut melaporkan istrinya ke polisi.

Sementara secara masif, pada periode 2013–2014, jutaan orang yang berdemonstrasi di ruang publik Turki dibubarkan paksa oleh pasukan antihuru-hara. Sedikitnya 45 pengunjuk rasa meninggal, 8.000 orang terluka, ribuan lainnya ditahan, dan ratusan orang menerima dakwaan di pengadilan.

3. Mesir

Di atas kedua negara tersebut, Mesir faktanya menjadi negara terburuk di dunia untuk melakukan protes. Diukur dari banyaknya jumlah pengunjuk rasa yang meninggal saat gelombang Arabian Spring pecah di negara beribukotakan Kairo tersebut pada 2011. Lebih dari 800 demonstran terbunuh dan 6.000 lainnya terluka.

Kekerasan terhadap aksi protes di Timur Tengah sayangnya tidak terdeteksi secara spesifik, karena kerunyaman konflik di negara yang bak medan perang tersebut. Negara lain yang memiliki catatan buruk dalam menangani pengunjuk rasa ialah Ukraina di Benua Eropa dan Hongkong, mewakili skala protes massal di Asia, dengan ribuan orang menjadi korban dalam aksi protesnya.

(okezone)

Tagged under

Supriyanto, seorang TKI yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) asal Tegal tewas disiksa di atas kapal saat berlayar di perairan Republik Fiji.

Pihak keluarga melakukan berbagai upaya untuk mencari keadilan dan kebenaran terkait tewasnya Supriyanto.

Awalnya keluarga sudah melaporkan ke Polres Tegal. Namun, polisi mengatakan kasus itu hanya bisa ditangani interpol, karena terjadi di luar negeri dan melibatkan berbagai pihak dari beberapa negara.

Keluarga Supriyanto juga melaporkan kejanggalan kepada BNP2TKI dan lembaga perlindungan hukum TKI di Jakarta.

“Keluarga pertama lapor ke Polres Tegal, karena tidak bisa menangani kemudian lapor ke BNP2TKI dan lembaga perlindungan hukum TKI. Katanya sampai sekarang masih dalam proses hukum di sana (Taiwan),” kata Setiawan Wartono, adik ipar Supriyanto.

Dugaan meninggalnya Supriyanto karena dianiaya semakin kuat, sebab menurut informasi, ada sebuah video yang menjadi bukti kuat yang di dalamnya berisi rekaman penganiayaan dan penyiksaan kepada Supriyanto.

Di dalam rekaman video amatir berdurasi sekitar 60 menit yang terbagi menjadi 3 bagian itu, terlihat ada beberapa adegan yang sangat kejam dialami Supriyanto.

Di awal video itu, terlihat Supriyanto keluar dari ruang nakhoda dengan posisi sudah sempoyongan dan tergeletak di lantai.

Saat itu, ia sudah tidak mampu lagi berjalan seperti biasanya. Supriyanto posisi duduk kemudian berjalan terseok-seok menuju dek kapal.

Tak lama berselang, empat ABK yang juga WNI menuju ke arah Supriyanto yang saat itu sudah tak berdaya.

Diduga empat WNI itu mendapat perintah dari nakhoda kapal. Keempat ABK WNI dari Batam, Pemalang dan Tegal itu tanpa aba-aba melakukan penganiayaan dengan memukul dan menendang Supriyanto.

Saat menerima penganiayaan dan siksaan itu, Supriyanto hanya bisa terdiam dan sesekali mengucapkan kata-kata “Ya Allah, astaghfirullahaladzim, dan subhanallah”.

Di dalam video itu juga memperlihatkan kondisi detik-detik terakhir Supriyanto mengembuskan nafas terakhirnya.

Sebelum meninggal dunia, kepala Supriyanto dipukul menggunakan pipa besi oleh seorang ABK.

Akibat pukulan menggunakan pipa besi itu, Supriyanto tergeletak dan keempat ABK meninggalkannya begitu saja.

Melihat seorang ABK terkulai lemah tak berdaya, seorang ABK lainnya yang juga berasal dari Indonesia mendekati Supriyanto.

Saat itu, Supriyanto masih bisa bernapas namun dalam kondisi sudah tersengal-sengal.

Sebelum benar-benar mengembuskan napas terakhir, Supriyanto di dalam rekaman itu mengatakan siapa saja yang melakukan penganiayaan dan penyiksaan tersebut.

Keluarga Supriyanto mendapatkan informasi bahwa rekaman video penyiksaan dan penganiayaan yang dialami Supriyanto sudah berada di Taiwan.

Video itu akan digunakan menjadi satu alat bukti untuk menjerat pelaku-pelaku yang terlibat.

“Kami menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib agar keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan,” jelasnya. (Fajar Eko Nugroho/Tribun Jateng)

Tagged under

Terpajang selama 70 tahun di Museum Auschwitz di Polandia, tidak ada satu orang pun yang terpikirkan bahwa ada harta karun disimpan di dalam sebuah cangkir. Ketika pertama kali menemukan sebuah cincin emas dan kalung di bagian bawahnya, sang kurator hanya bermaksud membersihkan.

Seperti kata pihak pengelola, perhiasan tersebut ditemukan secara kebetulan. Penemuan itu sendiri akan didokumentasikan dan diamankan sebaik mungkin. Pihak museum di negara bagian Birkenau itu juga berupaya mencari tahu pemilik aslinya. Namun sedikit pesimis, karena jejaknya tidak terlacak.

 

 

Dilansir dari Telegraph, Jumat (20/5/2016), diduga kuat perhiasan dalam peralatan dapur itu merupakan milik seorang tahanan nazi, yang sudah bersemayam di sana antara 1921 dan 1931. Sebab sangat wajar pada masa itu, para korban mencoba menyimpan barang berharga mereka dalam sebuah koper, ketika mereka tahu akan dipindahkan ke kamp kematian.

"Persembunyian barang berharga, secara berulang disebutkan dalam rekening tahanan yang selamat. Itulah mengapa pada saat itu, mereka harus melalui pemeriksaan baju dan koper yang ketat," ungkap Piotr Cywinski, Direktur Museum Auschwitz.

 

 

Menurutnya, fenomena itu menunjukkan di satu sisi, para korban sudah menyadari bahwa kepindahan mereka akan mengakibatkan hartanya dirampok. Sehingga mereka mencari akal menyembunyikannya di tempat yang mustahil terpikirkan.

Akan tetapi, di sisi lain, penemuan ini dapat dimaknai, bahwa keluarga Yahudi pada era kekejaman Nazi itu secara konstan memiliki secercah harapan, barang-barang berharga mereka akan diperlukan untuk membuktikan keberadaan mereka di masa depan.

(okezone.com)

Tagged under

Asyik di Facebook