Jun 19, 2018 Last Updated 6:41 AM, Jun 8, 2018

Kabupaten Mempawah Kekeringan, Warga Mandi Pakai Air Minum

Published in Nasional
Read 145 times
Rate this item
(0 votes)

Darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat belakangan ini diperparah dengan tidak adanya hujan. Akibatnya, beberapa wilayah di Bumi Khatulistiwa itu terancam kekeringan.

Seperti di Kabupaten Mempawah. Hampir sebulan sudah tak diguyur hujan. Persediaan air bersih warga kian menipis. Bahkan telah habis. Sebab warga pada umumnya memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saat ini persedian air warga sudah menipis dan banyak juga yang sudah kehabisan air bersih untuk minum dan memasak,” kata Ketua RT III, Desa Antibar, Kabupaten Mempawah, M Aminudin, Senin (18/2/2018).

Lanjut dia mengatakan, PDAM yang diharap pun tak mampu memenuhi kebutuhan air pelanggannya. Selain jarang mengalir, sumber airnya yang diambil dari Sungai Mempawah mengalami salinitas. Pasalnya, terjadi tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Warga pun terancam diare dan muntaber.

 

"Untuk keperluan sehari-hari, warga berhemat memanfaatkan air yang ada. Warga juga terpaksa menggunakan air sungai yang terasa asin untuk kebutuhan cuci dan mandi," tuturnya.

Warga RT III Desa Antibar, Ferdi. Dia merasa khawatir jika hujan tak turun dalam seminggu ini. Dipastikan beberapa warga akan kehabisan air bersih.

“Saat ini saja air bersih susah didapat, apa lagi bagi kami warga yang tidak memiliki aliran PDAM, tentu akan semakin sulit mendapatkan air bersih,” keluh bapak satu anak ini.

Tak hanya Desa Antibar, beberapa desa di Kecamatan Sungai Kunyit, Mempawah, juga mengalami hal yang sama. Bahkan lebih miris lagi. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa membeli dengan harga yang mahal. Untuk satu tanki isi 2.000 liter, harganya Rp100 ribu.

"Itu satu tanki tak cukup seminggu. Karena kami banyak keluarga tinggal dalam satu rumah. Bahkan dalam sebulan, kami bisa menghabiskan enam ratus ribu untuk belanja air," terang Hatijah, warga Desa Kelapa Empat Sungai Duri II, Kecamatan Sungai Kunyit.

Tak kalah dengan penderitaan dialami Sarmadi, warga Desa Bukit Batu, Sungai Kunyit. Ia terpaksa menyaring air kolam untuk masak dan minum. "Air sangat sulit di daerah kami. Kolam-kolam kering. Kalau pun ada airnya, berbau tak sedap,” kata pria yang akrab disapa Mardi ini.

Solusi lainnya, kadang Mardi membeli air galon. Jika keuangan terbatas, terpaksa air kolam yang dijadikan andalan keluarganya. “Semoga saja tidak terjadi diare dan muntaber. Walaupun ada warga di sini yang sudah terkena diare," ungkapnya.

Sementara itu, sejak 1 Februari, pantuan satelit Terra, Aqua, dan SNPP telah menujukkan sebanyak 5 titik api di Kabupaten Mempawah. Sedangkan Minggu (18/2/2018), citra satelit yang di himpun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menunjukkan titik api semakin banyak dan terlihat meluas, terutama di Kecamatan Mempawah Timur, Anjongan, Segedong dan Siantan.

Terkait kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Mempawah sudah melakukan rapat dan koordinasi untuk menyamakan persepsi guna melaksanakan langkah-langkah untuk menanggulangi kekeringan ini.

 

(https://news.okezone.com/read/2018/02/19/340/1861473/kabupaten-mempawah-kekeringan-warga-mandi-pakai-air-minum)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

Asyik di Facebook